Berbagi Pengalaman untuk Kesiapsiagaan

Image

 

ImageImageImageImageImage

Kota Padang dan sekitarnya dihantam gempa bumi yang melumpuhkan  hampir seluruh sendi kehidupan empat tahun silam. Sebuah tragedi. Semua meratap. Namun terlalu lama meratapi keadaan tak akan membuat yang sudah hilang akan kembali.

Tiga tahun berlalu Kota Padang kini berubah sudah. Pendampingan yang banyak dilakukan oleh lembaga-lembaga sosial kemanusiaan mulai menampakkan hasil. Salah satu perubahan yang kini bisa tertangkap mata adalah hampir di seluruh penjuru Kota Padang banyak ditemukan rambu-rambu evakuasi. Pengetahuan tentang kesiapsiagaan terus gencar disosialisasikan. Masyarakat hingga aparatur pemerintah ditingkatkan kapasitasnya, Kelompok Siaga Bencana dibentuk di seluruh nagari (setingkat desa).

Dengan semangat saling membagi pembelajaran inilah yang membuat pemangku kepentingan dari Kabupaten Kupang Tengah melakukan kegiatan studi banding ke Kabupaten Agam dan Padang Pariaman juga berdiskusi dengan Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Provinsi Sumatera Barat untuk memperoleh gambaran tentang upaya penanggulangan bencana secara utuh pada 18-20 Maret lalu. Saat ini di Kabupaten Kupang Tengah, Oxfam bersama CIS Timor sedang mengerjakan program pangarusutamaan PRB dalam kesiapsiagaan sektor air bersih, sanitasi, dan promosi kesehatan. Sedangkan di Kabupaten Agam dan Padang Pariaman, Oxfam bersama dengan PKBI Sumatera Barat dan Jamari Sakato sedang melaksanakan program membangun ketangguhan terhadap bencana.

“Harapan kami dari kegiatan ini adalah agar jejaring terbentuk karena salah satu upaya untuk mempercepat upaya kesiapsiagaan adalah dengan memperkuat jejaring untuk saling bertukar informasi dan pembelajaran,” kata Kepala Bidang Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Kupang Tengah Lemuel Lewan yang didaulat sebagai ketua rombongan kegiatan kunjungan belajar ini. Lemuel menambahkan, secara ancaman Kabupaten Kupang Tengah sendiri rawan terhadap banjir, longsor, puting beliung, dan kekeringan.

Saat semua pihak menyadari  bahwa urusan pengurangan risiko bencana adalah tanggung jawab bersama, maka ketangguhan masyarakat akan segera terbentuk. Upaya untuk menyatukan bermacam komonen tadi salah satunya adalah melalui sebuah forum. Sejak dikukuhkan oleh Gubernur Sumatera Barat pada 30 September 2010, Forum Pengurangan Risiko Bencana Provinsi Sumatera Barat telah menjadi ajang untuk saling berbagi pembelajaran antar anggotanya yang berasal dari berbagai komponen masyarakat. Lebih dari 100 organisasi terlibat dalam inisiasi pembentukan forum ini.

Namun seiring berjalannya waktu, militansi anggota forum mulai teruji. Satu demi satu karena persoalan kesibukan atau mutasi, anggota yang aktif mulai menyusut. “Pembelajaran dari forum ini adalah masih sulit merangkul SKPD. Meski begitu, dengan dukungan penuh dari BPBD Provinsi, anggota yang aktif terus melakukukan upaya pengurangan risiko bencana di tingkat kabupaten atau kota. Termasuk mendorong terbentuknya Forum PRB di tingkat kabupaten atau kota,” kata Lany Verayanti anggota forum PRB.

Salah satu bentuk kegiatan rutin forum adalah diskusi yang oleh sering mereka sebut dengan coffee morning. “Justru melalui kegiatan coffee morning yang berkesan santai ini, ide dan aspirasi anggota bisa tersampaikan untuk kemudian dijadikan agenda bersama,” ujar Patra Rina Dewi salah seorang anggota forum. Forum PRB juga berfungsi membantu advokasi tentang masalah penanggulangan bencana, termasuk yang masih terus dilakukan hingga saat ini adalah agar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat bisa memasukkan pengurangan risiko bencana dalam kurikulum sekolah.

Bagi Kabupaten Kupang Tengah, pembelajaran tentang forum ini menjadi penting, karena setelah pulang dari kunjungan belajar ini, mereka akan membentuk Kelompok Kerja (Pokja) Pengurangan Risiko Bencana. Pembelajaran dari Forum PRB provinsi Sumatera Barat akan berguna dalam pembentukan Pokja nantinya.

Kreativitas

Menggalang partisipasi masyarakat untuk terlibat aktif dalam usaha pengurangan risiko bencana bukan sebuah perkara yang mudah. Tetapi dengan kreativitas hal tersebut bisa disiasati. “Untuk mengajak masayarakat peduli dengan kegiatan pengurangan risiko bencana, kami gunakan banyak cara. Sosialisasi kami lakukan mulai dari warung kopi, kelompok pengajian, acara kesenian, perkumpulan olahraga hingga menjalin kerjasama dengan banyak ormas termasuk menggandeng para jurnalis dengan membentuk Komunitas wartawan Siaga Bencana Kabupaten Agam agar informasi pengurangan risiko bencana bisa menyebar luas,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Agam Bambang Warsito.

Upaya yang sama juga dilakukan oleh BPBD Kabupaten Padang Pariaman. Agar informasi mengenai pengurangan risiko bencana bisa diterima masyarakat, mereka banyak melibatkan tokoh adat sebagai pintu masuknya melalui pertemuan-pertemuan informal dengan masyarakat. Untuk mendapat masukan dan menjalin koordinasi, setiap hari Rabu, BPBD Kabupaten Padang Pariaman mengadakan pertemuan rutin dengan LSM. Komunikasi dengan kelompok siaga bencana juga rutin dilakukan melalui media radio komunikasi.

Selain di level pemangku kepentingan, kesiapsiagaan tersebut juga nampak di tingkat komunitas termasuk sekolah. Di Nagari Canduang Koto Laweh Kabupaten Agam dan Dusun Olo Desa Sunur, Kecamatan Nan Sabaris Kabupaten Padang Pariaman, kelompok siaga bencana menjadi garda depan dalam kegiatan pengurangan risiko bencana.

Urusan air bersih menjadi persoalan besar di Nagari Canduang Koto Laweh yang berbukit-bukit. Bagi masyarakat problem ini berarti kerentanan karena bisa menimbulkan bencana bila tidak segera dicari jalan keluarnya.

Atas usulan kelompok siaga bencana dan pemerintah kecamatan akhirnya dari DPRD Kabupaten Agam membantu pembangunan sarana air bersih dan fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK). Masih terkait persoalan air bersih, saat ini  yang masih dalam proses pengerjaan adalah pemipaan yang dananya berasal dari kontribusi warga dan pemasangannya dikerjakan secara gotong-royong.

Lain lagi kiprah kelompok siaga bencana Dusun Olo Desa Sunur, Kecamatan Nan Sabaris Kabupaten Padang Pariaman. Pada saat gempa bumi 2009, daerah ini termasuk terkena dampak yang parah. Ancaman tsunami juga sangat dekat dengan mereka karena letaknya yang hanya berjarak kurang lebih 1 kilometer dari bibir pantai. Pada saat bencana terjadi, sangat sulit untuk mendapatkan makanan dan obat-obatan. Keadaan ini membuat kelompok siaga bencana berinisiatif membuat kebun ketahanan pangan dan apotik hidup. Hasil dari kebun ini juga digunakan untuk membiayai keberlanjutan program dari kelompok siaga bencana.

Pada level sekolah upaya pengurangan risiko bencana juga sudah mulai dilakukan seperti yang dilakukan di SD Negeri 08 Nan Sabaris Kabupaten Padang Pariaman. Guru dan murid di sekolah ini sudah dilatih tentang upaya pengurangan risiko bencana termasuk kesiapsiagaan sektor air bersih, sanitasi, dan promosi kesehatan. “Luar biasa, anak-anak sudah bisa membuat peta ancaman risiko. Harapannya itu bisa diterapkan di Kupang terutama oleh beberapa sekolah yang sudah dijadikan model, sehingga bisa mempengaruhi sekolah-sekolah lain dalam upaya pengurangan risiko bencana,” komentar Matheos Kepala Bidang TK dan SD Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kupang Tengah setelah mengamati dan berdialog dengan pengelola SD Negeri 08 Nan Sabaris.

Inspirasi

Bagi delegasi Kabupaten Kupang Tengah, kunjungan belajar ke Provinsi Sumatera Barat ini ternyata sangat menginspirasi dan berkesan. “Kunjungan ini sangat berkesan bagi saya karena pembelajaran yang saya peroleh sangat luar biasa. Saya melihat koordinasi antara SKPD dan lembaga lain sudah sangat bagus. Di bidang sanitasi lingkungan sudah ada terjalin kerjasama yang mantap antara Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga dengan PUSKESMAS,” kata Marylin Imelda Mooy dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang Tengah. Zarniel Wolenka dari CIS Timor juga mengungkapkan hal yang senada bahwa kunjungan ini sangat menginspirasi dan memotivasi dirinya untuk melakukan yang lebih baik lagi terkait upaya pengurangan risiko bencana di Kabupaten Kupang Tengah sepulangnya nanti. (Nugroho Arif Prabowo/Oxfam)***

Ajarkan Siswa Terlibat Pengurangan Risiko Bencana

Image

Siswa SDN 08 Nan Sabaris Kabupaten Padang Pariaman  mencuci tangan mereka  sebagai upaya untuk menjaga kesehatan diri.  (Foto: Nugroho Arif Prabowo/Oxfam)

 

Wajah-wajah belia itu berbinar ceria. Tangan mereka bergerak lincah membersihkan ujung jari hingga pergelangan tangan menggunakan sabun hingga dirasa bersih. Kegiatan mencuci tangan ini sudah menjadi kebiasaan bagi siswa SDN Nan Sabaris 08 Kabupaten Padang Pariaman. Guru-guru di sekolah tersebut telah menanamkan kepada para siswanya untuk selalu menjaga kesehatan dan kebersihan. “Setiap Hari Sabtu kami ada pelajaran tentang UKS (Usaha Kesehatan Sekolah). Dalam pelajaran tersebut kami diajarkan untuk mencuci tangan yang benar. Selain itu kami juga diajarkan untuk menjaga kesehatan diri sendiri juga menjaga kebersihan lingkungan, “ ujar Mila, murid kelas 6.

Upaya peningkatan kesehatan dan kebersihan di SDN Nan Sabaris 08 tersebut dimulai sejak sekolah tersebut mendapatkan pendampingan program tentang pengarusutamaan pengurangan risiko bencana  dalam kesiapsiagaan sektor air bersih, sanitasi, dan promosi kesehatan oleh Oxfam bekerjasama dengan PKBI Sumatera Barat. Program ini meliputi kegiatan fisik dan non fisik. Di bidang fisik berupa pembuatan fasilitas cuci tangan, rehabilitasi WC, pembuatan menara penampungan air bersih, pembangunan tempat sampah untuk pembuangan akhir juga pengadaan tong sampah pilah yang memisahkan sampah organik dan non organik.

Selain upaya yang bersifat fisik, kegiatan lainnya juga berupa pelatihan bagi siswa dan guru mengenai sanitasi dan promosi kesehatan yang diintegrasikan dalam kerangka besar upaya pengurangan risiko bencana.

 Kesiapsiagaan siswa dan guru

 Pada tingkatan siswa, diadakan pelatihan dokter kecil yang terdiri dari siswa kelas tiga hingga kelas lima. 25 orang siswa terpilih menjadi dokter kecil. Harapannya mereka nanti akan menjadi tutor sebaya bagi teman mereka untuk menularkan pengetahuan yang sudah mereka dapat. 

Siswa juga diajak untuk memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Para siswa tersebut dibawa keluar untuk mengamati keadaan lingkungan sekitar sekolah mereka. Pada kegiatan itu mereka menemukan banyak kotoran hewan yang tersebar dimana-mana. Saat itulah guru menerangkan bahwa kotoran hewan yang dibiarkan bertebaran merupakan sumber penyakit. Guru kemudian mengajak para siswa mengolah kotoran hewan tersebut menjadi pupuk kompos agar bisa bermanfaat bagi lingkungan.

“Anak-anak senang sekali dengan model pembelajaran seperti ini. Selain tidak bosan juga melatih kepekaan sosial mereka,” kata Aligustika Yetri, guru kelas 5 di sekolah tersebut. Aligustika menambahkan bahwa siswa juga diajarkan untuk memisahkan sampah organik dan non organik. Hasil dari temuan para siswa tersebut mereka tuangkan ke dalam sebuah peta risiko partisipatif yang dibuat oleh mereka sendiri. Tentu saja menggunakan gaya bahasa yang mereka pahami bersama.

Saat gempa bumi tahun 2009 lalu, sekolah ini termasuk menderita kerusakan yang berat. Kejadian itu amat membekas bagi siswa sehingga membuat kesadaran mereka tumbuh untuk selalu waspada terhadap bencana yang bisa datang lagi sewaktu-waktu. Rata-rata tempat tinggal siswa juga disekitar sekolah itu. Upaya yang disiapkan kepada siswa agar mereka selalu waspada adalah dengan mengajak siswa membuat standar operasional prosedur sehingga ketika terjadi bencana mereka paham apa yang harus mereka lakukan.

Tak hanya siswa, guru juga ditingkatkan kapasitasnya. Pada pelaksanaannya pihak komite sekolah ikut terlibat aktif dalam pelatihan. Agar informasi kesiapsiagaan ini tidak terputus, rencananya komite sekolah akan mengalokasikan anggaran untuk keberlanjutan kegiatan ini dengan dana mandiri.

Kerjasama 

SDN Nan Sabaris 08 juga bekerjasama dengan Puskesmas Pauh Kambar yang letaknya tak begitu jauh dari sekolah untuk mendampingi kegiatan UKS dan membina para dokter kecil.

“Biasanya saya berkunjung ke sekolah ini sebulan sekali untuk melakukan pemantauan UKS dan pembinaan kepada dokter kecil,” kata Silvia Hayati petugas kesehatan dari Puskesmas Pauh Kambar yang sudah dilatih tentang kesiapsiagaan bencana. Silvia adalah satu dari sepuluh petugas Puskesmas Pauh Kambar yang sudah dilatih untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang usaha pengurangan risiko bencana secara menyeluruh. Tak hanya tingkat Sekolah Dasar, petugas Puskesmas juga mendampingi Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas. Pada level Sekolah Dasar, sekolah yang didampingi sebanyak 26 buah, pada tingkat Sekolah Menengah Pertama 5 sekolah, dan Sekolah Menengah Atas sebanyak 3 buah.(Nugroho Arif Prabowo/Oxfam) ***

 

Radio Komunikasi Bantu Masyarakat Tingkatkan Kesiapsiagaan

Menjelang siang di halaman sebuah kantor. Tanah basah, hujan baru saja usai menjalankan tugasnya.

Seorang staf BPBD Kabupaten Padang Pariaman sedang melaksanakan tugasnya untuk memberikan informasi kesiapsiagaan kepada masyarakat melalui radio komunikasi. (Foto: Nugroho Arif Prabowo/Oxfam)

Seorang staf BPBD Kabupaten Padang Pariaman sedang melaksanakan tugasnya untuk memberikan informasi kesiapsiagaan kepada masyarakat melalui radio komunikasi.
(Foto: Nugroho Arif Prabowo/Oxfam)

Masuk ke dalam, di salah satu sudut ruangan seorang  pria sedang duduk menghadap ke arah meja. Diatas meja tersebut diletakkan perlengkapan radio komunikasi dan komputer. Pria itu berbicara melalui radio komunikasi yang ada di depannya. Dari kalimatnya terdengar seperti menginformasikan sesuatu kepada lawan bicara. Rupanya dia sedang memberitakan pantauan situasi terkait cuaca yang tak menentu dan kemungkinan terjadinya banjir. Begitulah pemandangan sehari-hari yang dapat ditemui di salah satu ruangan di Kantor BPBD Kabupaten Padang Pariaman. Ruang tersebut difungsikan sebagai Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Penanggulangan Bencana yang dilengkapi dengan perangkat radio komunikasi dan internet untuk distribusi infrormasi kesiapsiagaan.

Bisa dipastikan saat curah hujan tinggi seperti saat ini, maka debit air di sungai akan naik. Bila itu terjadi, maka  bahaya banjir siap mengintai. Pada kondisi inilah dirasakan pentingnya informasi bagi masyarakat, karena bencana akan datang kapan saja. Jika itu terjadi, mereka sudah bersiap.

Salah satu media pendistribusian informasi yang efektif adalah melalui radio komunikasi. Dari situlah informasi tersebut disebarkan kepada masyarakat melalui Kelompok Siaga Bencana (KSB). Meskipun pengaktifan radio komunikasi di BPBD Padang Pariaman masih terbilang baru, namun perannya sudah cukup membantu. Selain untuk menginformasikan tentang kesiapsiagaan terhadap bencana, radio komunikasi tersebut juga cukup efektif sebagai alat koordinasi lintas sektor.

Kisah tentang radio komunikasi ini bermula sebuah diskusi tematik yang digagas oleh Oxfam bersama PKBI Sumatera Barat di Bulan November 2012 tentang upaya pengurangan risiko bencana. Dari diskusi tematik yang berlangsung hingga enam kali itu tercetuslah ide pemanfaatan radio komunikasi sebagai media penyebaran informasi untuk upaya pengurangan risiko bencana. Sebenarnya perangkat radio komunikasi tersebut sudah dimiliki oleh BPBD Kabupaten Padang Pariaman namun belum aktif dipakai karena kemampuan teknis staf masih kurang.

Setelah acara tersebut upaya untuk mengaktifkan kembali radio komunikasi pun dimulai. Tahap awalnya adalah tentu saja mengaktifkan perangkat rado komunikasi tersebut dan memberikan peningkatan kapasitas tentang penggunaan radio komunikasi kepada staf BPBD. “Kebetulan saya juga aktif di organisasi Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI)  dan merasakan betul manfaat radio komunikasi saat gempa bumi di Padang yang lalu. Kita lihat di BPBD Padang Pariaman fasilitas radio itu ada tetapi belum digunakan, sehingga kita dorong pemanfaatannya, “ ujar Budi Fitra dari PKBI Sumatera Barat yang aktif mendampingi para staf BPBD Padang Pariaman dan KSB untuk teknis pengoperasian radio komunikasi. PKBI Sumatera Barat sendiri juga ikut menyumbangkan tiga  buah HT dan dua buah antena rig.

Untuk memperoleh gambaran lebih lanjut tentang fungsi radio komunikasi tersebut, staf BPBD Kabupaten Padang Pariaman diajak melakukan studi banding ke BPBD Kota Padang. BPBD Kota Padang sudah memfungsikan radio komunikasi untuk urusan penanggulangan bencana.

Sehari setelah perangkat radio komunikasi di BPBD Padang Pariaman tersebut dapat difungsikan, banjir bandang datang. Sebuah pembelajaran yang amat bermakna. Keberadaan radio komunikasi dapat dirasakan langsung manfaatnya. Perkembangan informasi terkini dapat selalu diwartakan. Koordinasi antar sektor dapat berjalan lancar.

Kini melalui radio komunikasi, setiap jam sepuluh pagi seluruh camat dan wali nagari di Kabupaten Padang Pariaman wajib melaporkan situasi di wilayahnya ke Pusdalops BPBD melalui radio komunikasi, sehingga keadaan setiap wilayah terpantau. Kegiatan ini mereka sebut sebagai absensi audio.

“Radio komunikasi sangat membantu untuk mengatasi persoalan penyebaran informasi saat keadaan darurat, dimana biasanya komunikasi melalui telepon seluler tidak berfungsi. Selain itu radio komunikasi juga bisa berfungsi sebagai media penyebaran informasi bagi kesiapsiagaan masyarakat,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Padang Pariaman Zainir Koto. Laksana emas, dalam upaya peningkatan kesiapsiagaan persoalan informasi dan komunikasi menjadi hal yang sangat berharga. (Nugroho Arif Prabowo/Oxfam)***

 

PROFILE SULNIATI, A DRR CHAMPION FROM THE FOOTHILLS OF RINJANI

Image

 

The Sembalun Bumbung village is situated at the foothills of Mount Rinjani in East Lombok district. The hilly landscape and major river that flows through this village have rendered it vulnerable to various disasters. Recurring flash floods, heavy winds and landslides have affected this village. Two people were killed in a flash flood in 2006. Seeing all this, Sulniati, a woman from the village, felt called to contribute to efforts in disaster risk reduction (DRR). She soon realized that she could not do it alone and had to engage with the community to be more active and concerned about DRR.

Because she is a woman

In 2010, a Village Preparedness Team (VPT) was established in Sembalun Bumbung village, thanks to the Building Resilience to Disaster program. Sulniati did not hesitate for a second to join the VPT—she even became the leader. Initially, her involvement and position as leader of the VPT was not taken very seriously by some villagers. This was because she was a woman. Many people equated disaster work with physical work, and physical work is only for men.

“Because I am a woman, many people doubted my abilities. But I ignored it all because I think a woman’s work is not only to be in the kitchen, water wells, and bed. Women can do much more than that for the development of the village,” she said with conviction. Sulniati realizes that as a head of the VPT, she must think strategically on how to drive VPT activities not only during a disaster, but also before and after.

The first step she took as the VPT leader was to encourage the members to recognize signs from nature as part of the early warning system. The next thing was to create the standard operating procedure of the early warning system. Finally, the last task was to inform villagers about the system and agree on some early warning tools, such as hand held loud speakers that are carried around the village for disaster warnings.

After some time, heavy rains and strong winds came over the village. But because the community had been forewarned to be prepared, no one was killed during the storm. Since that day, villagers have come to realize that DRR is not a trivial matter and have subsequently given Sulniati their full support in undertaking DRR efforts. Currently, together with her fellow villagers, Sulniati is promoting village legislation on disaster risk reduction.

Schools and health centers

Sulniati’s efforts to raise awareness on DRR did not end at the village. When she is not organizing the community, Sulniati teaches at the MTsNW school in Pangsor Gunung. In her classroom, she always gives DRR messages and wisdom to her students. “Five minutes before I start a lesson, I will remind and encourage my students to always care for their environment, because it is a form of our gratitude to God for his bounty,” she said.

In addition to being the head of the VPT, Sulniati is also a local health center cadre. She believes that women are an essential element of DRR efforts and they must have the knowledge and abilities to be prepared for any kind of vulnerability. It is this conviction that has led Sulniati to inform women who come to the health clinic about DRR. “The simplest thing that a woman can do to support DRR is to motivate her family to always keep their home clean,” she explained.

Sulniati’s efforts have been recognized beyond her village. She has been invited a number of times by the chief of police of Sembalun to lead sessions on DRR for students of both the Bhayangkara junior and high schools. She hopes that one day she can share her experiences to communities in other villages. This mother of one daughter believes that DRR efforts must always continue. “The word ‘tired’ does not exist for me when it comes to humanitarian work. I will dedicate my life to disaster risk reduction work,” she said with determination. (Nugroho Arif Prabowo/Oxfam)

SOSOK: SULNIATI PENDEKAR PRB DARI KAKI RINJANI

Desa Sembalun Bumbung terletak di kaki Gunung Rinjani Kabupaten Lombok Timur. Daerahnya yang berbukit-bukit dan dilalui sungai besar, membuat desa ini rentan terhadap ancaman bencana alam. Beberapa kali banjir bandang, badai angin juga tanah longsor menghampiri desa ini. Bahkan tahun 2006 saat banjir bandang datang, dua orang warganya menjadi korban. Hal ini yang membuat Sulniati terpanggil untuk mengabdikan dirinya terhadap usaha-usaha pengurangan risiko bencana (PRB). Namun ia sadar bahwa upaya ini tidak bisa dilakukannya seorang diri. Warga desa juga harus diajak untuk lebih peduli dan aktif melakukan upaya PRB tersebut.

Karena Dia Perempuan

Tahun 2010 melalui Program Membangun Ketahanan terhadap Bencana, terbentuklah Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) di Desa Sembalun Bumbung. Tanpa ragu, Sulniati mendaftarkan dirinya untuk bergabung ke dalam TSBD. Bahkan ia dipercaya menduduki posisi ketua. Awalnya peran Sulniati sebagai ketua TSBD dan juga kiprahnya hanya dipandang sebelah mata oleh sebagian warga desanya. Hal ini terjadi karena Sulniati adalah seorang perempuan. Warga menganggap bahwa urusan kebencanaan itu identik dengan tenaga fisik, dan itu menjadi tugas la-ki-laki.

“Karena saya seorang perempuan, pada awalnya dari warga ada pandangan yang meragukan kemampuan saya. Tetapi saya cuek saja dan menurut saya tugas perempuan tidak hanya di dapur, sumur dan kasur. Perempuan bisa berbuat lebih banyak bagi kemajuan desa,” katanya dengan lugas. Sulniati menambahkan bahwa selaku ketua TSBD ia harus mampu berpikir strategis mengarahkan kegiatan TSBD tidak hanya saat terjadi bencana saja, tetapi juga saat tidak terjadi bencana dan setelah ada bencana.

Langkah awal yang dilakukannya selaku ketua TSBD adalah mengajak anggotanya untuk mengenali tanda-tanda alam sebagai bagian dari sistem peringatan dini. Setelah itu mereka membuat standar operasional prosedur (SOP) mengenai sistem peringatan dini. Tugas  berikutnya adalah mensosialisasikannya kepada warga termasuk menyepakati beberapa alat bantu peringatan dini seperti penggunaan pengeras suara yang dibawa keliling untuk menyampaikan informasi kebencanaan.

Tak lama setelah itu, hujan yang lebat disertai angin kencang melanda desa. Karena warga sudah diberitahu untuk bersiap, maka jatuhnya korban bisa dihindari. Sejak saat itu warga sadar bahwa upaya PRB tidak bisa dianggap remeh. Maka mereka mendukung penuh kiprah Sulniati dan ikut aktif melakukan usaha PRB. Saat ini Sulniati bersama warga desa sedang mendorong lahirnya peraturan desa yang mengatur tentang upaya pengurangan risiko bencana.

Sekolah dan Posyandu

Langkah Sulniati untuk melakukan penyadaran tentang pengurangan risiko bencana tidak berhenti hanya di lingkup desa. Sulniati yang sehari-hari bertugas sebagai guru di MTsNW Pangsor Gunung tak lupa selalu menyisipkan pesan tentang PRB kepada para siswanya. ”Biasanya lima menit sebelum masuk ke inti pembelajaran, saya mengingatkan dan mengajak kepada siswa untuk selalu peduli dan menjaga lingkungan di sekitar mereka. Karena itu adalah bentuk ungkapan rasa syukur kita atas karunia Ilahi,” ujar Sulniati.

Selain sebagai ketua TSBD, Sulniati juga seorang kader Posyandu. Bagi Sulniati  perempuan adalah komponen penting dalam upaya PRB. Mereka harus diberi tambahan pengetahuan dan kemampuan sehingga nantinya menjadi tangguh dan selalu bersiap terhadap segala macam kerentanan. Ini yang menjadi dasar baginya untuk selalu memberikan sosialisasi tentang PRB bagi ibu-ibu pada saat kegiatan Posyandu berlangsung. “Hal yang paling sederhana yang bisa dilakukan ibu-ibu terkait usaha pengurangan risiko bencana adalah menjadi motor penggerak di keluarganya untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan,” tambahnya lagi.

Pengakuan terhadap kiprah Sulniati tidak hanya diberikan oleh warga di desanya saja. Beberapa kali Polsek Sembalun mengajak Sulniati untuk memberikan materi tentang PRB bagi siswa SMP dan SMA Bhayangkara. Sulniati juga berharap nantinya ia dapat berbagi pengalaman dengan masyarakat di luar daerahnya. Bagi ibu satu orang putri ini usaha-usaha terkait PRB harus dilakukan secara terus-menerus. “Tidak ada kata capek untuk setiap hal yang berhubungan dengan kemanusiaan. Dan saya akan mengabdikan hidup saya untuk kegiatan pengurangan risiko bencana,” tekadnya. (Nugroho Arif Prabowo/Oxfam)

KEEPING THE PEACE WITH AWIG-AWIG

 

ImageImageImageLong before anyone was talking about disaster risk reduction, our ancestors were already doing it. Back then they realized that if they continue to exploit the environment without any efforts to protect and conserve it, then there would no doubt be a disaster. So, in an effort to prevent this from happening, they established a set of rules to regulate the usage of natural resources. These rules were agreed upon by customs and they hoped that it would last for generations to come.

These days not many cultural rules and customs are still being heeded. Changing times and economic interests have made people become more preoccupied with using up nature’s resources without taking care or conserving it.

There is, however, one community that still strongly upholds its custom laws in the daily lives of its residents, including natural resource management. This community is located in the Beleq hamlet in a Gumantar village in North Lombok district. All community members of this hamlet are of Sasak ethnicity and still obey the laws established by their ancestors.

The community members of Beleq follow a special custom law called an awig-awig, or rules, which regulates the management of natural resources from the forest and springs.

Not too far from the village is a communal forest with tall trees towering over the land. In that forest is a spring, which villagers use for their daily needs. For this community, the forest and spring are invaluable assets, making it absolutely essential that they protect their existence. No one is allowed to cut down the trees in this forest or else they face sanctions set by the custom laws.

The same can be said about water sources. There are several rules on its usage that community members must follow. One of them is that bathing and washing is forbidden in the spring, which has contributed to maintaining its cleanliness. They are also not allowed to take an excessive amount of water. Generally villagers retrieve water using a bokah, or a hollowed out pumpkin shell, which is not very big in size and has a diameter of around 30 cm.

“People’s awareness to preserve the environment has been around for generations, and even the children understand the importance of environmental stewardship,” said Jumayar, a local youth leader. Additionally, villagers also believe that if they violate the awig-awig, they will get ill or suffer from long rainy or dry seasons, which might befall the village.

Even though disaster risk reduction traditions were started by their ancestors and have been carried out throughout many generations until the present day, community members of Beleq are quite open to new knowledge and skills. When the Building and Deepening Resilience to Disasters in Eastern Indonesia was introduced to their hamlet, they were very enthusiastic about the program. Some residents have become members of the Village Preparedness Teams.

“We are grateful for this program in our community since we have new knowledge and skills in reducing the impacts of disasters,” said Yurdin, the head of Beleq hamlet. Yurdin also acknowledged that by increasing the knowledge and information in disaster risk reduction, villagers will be better organized and focused in their environmental conservation efforts.

In the end, all of the efforts done by the community of Beleq hamlet are aimed at maintaining a balance between nature and humankind. When that balance is achieved, therein lays the harmony of life. (NugrohoArifPrabowo/Oxfam)

Photo info:

Residential area of the Beleq hamlet. (Photo credit: Nugroho Arif Prabowo/Oxfam)

Reninti, a Beleq villager, carrying a bokah. (Photo credit: Nugroho Arif Prabowo/Oxfam)

Communal forest of Beleq. (Photo credit: Nugroho Arif Prabowo/Oxfam)

Link

Grow in Indonesia on Facebook page

Grow in Indonesia on Facebook page

Female Food Hero in Indonesia was launched during International Women’s Day celebration (5 – 9 March 2013). Seven women from different provinces in Indonesia were chosen as their hard working to support food security and livelihoods in and nearby their neighbors and communities.