Jadikan Ubi Produk Pangan Unggulan
Jayapura, Kompas – Ubi jalar perlu didorong untuk menjadi produk pangan dengan nilai tambah yang dapat diunggulkan. Tidak hanya dikonsumsi dalam bentuk asali saja, produk pertanian tersebut dapat dimanfaatkan menjadi tepung kemudian diolah menjadi mi.
Demikian dikemukakan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Papua Leonard R Rumbarar dalam peluncuran buku Ubi Jalar, Si Manis Pemberi Kehidupan, Jumat (27/4) di Universitas Cendrawasih, Jayapura.
Leonard mengatakan, saat ini produksi ubi jalar di Papua mencapai 450.000 ton. ”Kami mengalami surplus produksi ubi jalar. Kebutuhan untuk konsumsi hanya 300.000 ton per tahun,” kata Leonard.
Selama ini, sisa produksi itu sebagian dimanfaatkan untuk pakan ternak. Pemerintah, menurut dia, telah membuat tiga pabrik pengolahan ubi jalar. Pabrik itu nantinya akan memproduksi tepung ubi jalar dan mi yang terbuat dari tepung ubi jalar. Diharapkan, dengan nilai tambah tersebut, ubi jalar dan produk ikutannya dapat menggantikan produk-produk lain yang selama ini dipasok dari luar Papua.
Menurut Kiloner Wenda, penulis buku Ubi Jalar, Si Manis Pemberi Kehidupan, di Papua saat ini terdapat lebih kurang 250 jenis ubi jalar. Sebagian besar telah dikembangkan, bahkan 35 jenis di antaranya menjadi varietas unggulan yang saat ini dibudidayakan masyarakat mulai dari Wamena hingga Lanny Jaya.
Tahan lama
Ubi tersebut tidak hanya manis, tetapi juga tahan hama. Tidak hanya itu, satu buah ubi rata-rata mencapai berat 5 kilogram. Produksi rata-rata mencapai 145 ton per hektar.
Dengan kemampuan produksi sebesar itu, Leonard Rumbarar dan Kiloner Wenda sepakat ubi jalar dapat dimanfaatkan untuk menggantikan program beras untuk rakyat miskin. Apalagi, menurut Leonard Rumbarar, ubi jalar termasuk dalam 10 jenis bahan makanan pokok.
Untuk menunjang pengembangan budidaya ubi jalar, terutama di Wamena, Kiloner Wenda menyebutkan pentingnya perlindungan lahan bercocok tanam bagi petani. Lahan-lahan potensial di wilayah pegunungan tengah yang saat ini digunakan untuk membudidayakan ubi jalar tidak boleh diubah fungsinya. ”Apa pun alasannya, lahan itu tidak boleh diubah peruntukannya, entah itu perkantoran atau perumahan,” kata Kiloner.
Di wilayah pegunungan, sebagian kebun berada di lereng-lereng bukit yang terjal dengan kemiringan lebih kurang 70 derajat. Lahan yang potensial untuk budidaya berada di sepanjang sungai, dengan lebar hingga lebih kurang lima kilometer dari tepi sungai.
Sungguh menyedihkan jika lahan potensial itu kemudian diubah untuk permukiman ataupun perkantoran. Apalagi, di lahan potensial itu panen ubi jalar dapat dilakukan optimal, hingga enam kali dalam satu tahun.
Di sisi lain, kepastian peruntukan lahan itu juga menjamin ketersediaan pangan dan sumber ekonomi warga. Antropolog Universitas Cendrawasih, Mince Rumbiak, mengatakan, proses pengelolaan kebun ubi jalar dilakukan perempuan. ”Ketersediaan pangan di Papua tidak bisa dilepaskan dari peran utama perempuan,” ujarnya. (JOS)
Source: http://cetak.kompas.com/read/2012/04/28/03275577/jadikan.ubi..produk.pangan.unggulan

KBR68H-Manusia dan alam menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Namun sayangnya hidup selaras dan berdampingan tidak selalu bisa dijalankan antara manusia dan alam. Ini terbukti dengan makin rusaknya alam kita. Perubahan iklim yang tengah terjadi dewasa ini salah satunya disebabkan oleh ketidakharmonisan hidup antara manusia dan alam.