Cara ini dinilai ampuh membantu kota-kota supaya lebih tahan terhadap bencana. “Kita rayakan bersama, tak hanya pemerintah, civil society tapi juga masyarakat dan komunitasnya,” ujar Deputi Kesiapsiagaan & Pencegahan BNPB Sugeng Triutomo. Perayaan dan kampanye Pengurangan Resiko Bencana tak hanya di tanggal tersebut. “Kita 1 bulan full di bulan Oktober merayakan bersama,” kata Sugeng Triutomo.
Menurut Sugeng peringatan bulan Pengurangan Resiko Bencana mulai dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 2000. Peringatan diisi dengan berbagai kegiatan. Mulai dari kampanye, sosialisasi, pameran, simulasi dan lain sebagainya. Kegiatan peringatan jadi sangat penting karena Indonesia termasuk negara rawan bencana. “Bencana sempat terjadi di Aceh, Sumatera Barat, Yogyakarta, Wasior lalu kembali ke Sumatera Barat, bencana akrab dengan Indonesia,” tutur Sekjen Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia MPBI Iskandar Leman. Peringatan PRB kali ini untuk mengkampanyekan lebih jauh isu-isu pengurangan resiko bencana. Dengan begitu semua tingkatan masyarakat lebih sadar, siaga dan siap terhadap bencana. “Menjadi budaya pada seluruh level,” tukas Lukman Hakim dari Oxfam.
Budaya PRB
Budaya Pengurangan Resiko Bencana (PRB) bisa dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Kuncinya adalah kerjasama semua pihak. Mulai dari pemerintah pusat, daerah, komunitas, LSM dan masyarakat itu sendiri. “Realnya yang perlu diingat daerah kita itu rawan bencana, jadi budaya PRB itu memungkinkan,” ujar Lukman Hakim dari Oxfam. Oxfam berupaya untuk memfasilitasi setiap kegiatan peringatan PRB di Indonesia. Salah satunya dengan mengadakan kegiatan pelatihan dan simulasi siap siaga bencana. Misalnya di NTT dan Papua. Karena itupula peringatan PRB digencarkan, setiap kegiatan pun diusahakan bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. “Dari Sabang sampai Merauke pokoknya,” kata Deputi Kesiapsiagaan & Pencegahan BNPB Sugeng Triutomo.
Kearifan lokal di setiap daerah juga bisa menjadi materi Pengurangan Resiko Bencana (PRB). “Zaman nenek moyang, mengenal kalau terjadi badai apa tandanya, lalu kekeringan, kalau tahu tandanya jadi bisa mengurangi dampak atau mencegah bencana,” sebut Iskandar Leman, Sekjen Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia MPBI. Kearifan lokal di dunia diakui berperan dalam mengantisipasi perubahan iklim dan sadar bencana. “Kearifan lokal harus tetap ada,” tambah Iskandar Leman.
Selalu Siap Siaga Bencana
Indonesia sudah memiliki peta rawan bencana. Peta tersebut berisi daerah mana yang berisiko tinggi dan rendah terhadap bencana. “33 provinsi sudah dipetakan,” sebut Deputi Kesiapsiagaan&Pencegahan BNPB Sugeng Triutomo. Sugeng mencotohkan masyarakat yang tinggal di sekitar Sungai Ciliwung dan lereng Merapi sudah sadar kalau daerahnya atau tempat tinggalnya sering terjadi bencana. Mulai dari banjir hingga letusan gunung merapi. “Mereka itu tiap tahunnya selalu latihan simulasi, apa yang harus dilakukan ketika ada bencana, barang apa yang dibutuhkan, lalu juga pencegahannya,” terang Sugeng Triutomo.
Bencana yang diantisipasi bukan hanya yang disebabkan oleh alam tapi juga buatan manusia. “Itu kita upayakan juga, bekerjasama dengan pemda terkait pemberian izin, jangan asal kasih izin, perhatikan Amdalnya juga,” tambah Sugeng Triutomo. Yang terpening kata Sekjen Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia MPBI Iskandar Leman adalah kepedulian. Peduli terhadap pengurangan risiko bencana. Peduli dan segera bertindak bila investor atau pemerintah daerah melakukan mengeksploitasi besar-besar terhadap lingkungan tanpa memperhatikan AMDAL. “Laporkan saja ke BPBD setempat, PMI atau BNPP, atau komunitas, LSM penanggulangan Bencana,” saran Iskandar Leman. Mulai pula dari diri sendiri untuk mengurangi risiko bencana. “Kenali lingkungan, apa kemungkinan bencana yang akan timbul dan ajak kawan-kawan mengurangi risiko bencana,” tutup Lukman Hakim dari Oxfam.
Perbincangan ini kerjasama KBR68H dengan Oxfam dan mitra-mitra lokanya, didukung oleh Pemerintah Australia melalui Kemitraan Australia Indonesia
http://www.kbr68h.com/perbincangan/bumi-kita/15079-mari-budayakan-pengurangan-risiko-bencana
