Oxfam GB in Indonesia In Action

Tanimbar, Pulau kecil dengan beribu cerita

October 19, 2007 · 5 Comments

Tidak banyak orang yang tahu tentang kepulauan Tanimbar yang terletak di propinsi Maluku Tenggara Barat, termasuk aku.  Mungkin karena ilmu bumiku yang buruk, ataukah karena kepulauan ini tidak marak diberitakan seperti layaknya Bali. 

Seminggu sebelum keberangkatanku, kerap timbul pertanyaan dalam hati “Duh, bisakah saya bertahan beberapa hari saja di tempat terpencil itu? Duh, bagaimana kalau saya tiba tiba jatuh sakit, tidak ada dokter, malahan dukun? Dan masih banyak lagi. Berkali-kali aku berbicara melalui telephone dengan kolegaku dari Kantor Oxfam Makassar, Wahyu, untuk memastikan bahwa aku tidak bakalan terlantar atau tidur di perahu di kampung nelayan.

Dengan setengah hati aku berangkat pada hari Minggu malam bersama sama dengan seorang photographer dan film maker. Kami tiba di Ambon pada pukul 6.30 pagi, untuk kemudian segera melanjutkan perjalanan dengan pesawat kecil Trigana menuju Tanimbar.

Ketika pesawat trigana memasuki kepulauan Yamdena, aku terdiam melihat kehijauan yang meliputi kepulauan ini. Alamnya sungguh berbeda. Aku ingat lagu dimasa kecilku yang kerap kunyanyikan. Sebuah lagu yang menceritakan tentang Nyiur Hijau yang melambai di tepi pantai Indonesia. Mungkin saja si penulis lagu pernah bertandang ke Tanimbar dan mendapat inspirasi dari lenggak lenggoknya si pohon kelapa. Tetapi lamunan sesaatku terganggu oleh pengumuman yang dibuat oleh si pramugari yang menyatakan bahwa dalam beberapa saat lagi pesawat akan mendarat di Tanimbar. Seketika aku mengingat kekhawatiranku, mendadak perutku mulas.

alam-tanimbar.jpg

Pesawat kecil kami mendarat pada pukul 10 pagi. Kedatangan kami disambut oleh Wahyu yang telah tiba beberapa hari lebih awal. Dengan senyum lebarnya Wahyu berkata,”Selamat Datang di Saumlaki, teman-teman!”  Selamat tidur di perahu Imelda, bathinku.

saumlaki22.jpg

Perayaan Sasi Kopra

Pagi itu aku dan teman-teman memulai perjalanan kami di Desa Atubul yang terletak di pesisir pantai kepulauan Tanimbar. Desa kecil ini memiliki banyak sekali perkebunan kelapa yang memberikan hasil yang memadai bagi masyarakat di desa tersebut.

Kedatangan kami disambut dengan gegap gempita. Sebuah tarian penyambutan telah mereka persiapkan seminggu sebelum kedatangan kami. Sebuah lagu didendangkan dalam bahasa daerah setempat. Aneh terdengar, tetapi sempat membuat hati kecilku tersentuh oleh kehangatan mereka. Selanjutnya, kami diterima oleh para tetua adat.

gambar-tarian.jpg

Bersama kami, hadir pula pejabat pemerintah serta para pengusaha kaya Tanimbar. Tujuan kedatangan kami di desa ini adalah untuk menghadiri perayaan buka sasi kopra yang dirangkai oleh dialog pengembangan pasar produk daerah pesisir.

spanduk-sasi.jpg

Didalam perayaan ini masyarakat Desa Atubul memperlihatkan kepada kami bahwa kearifan lokal  yang dikenal dengan nama Sasi Kopra memegang peranan penting bagi masyarakat desa dalam mengatur penghidupan mereka terutama dalam hal pengolahan hasil perkebunan.

Sasi dalam bahasa Indonesia berarti larangan mengolah hasil. Selama 3 bulan, adat melarang masyarakat untuk mengolah hasil. Ketika memasuki bulan ke – 4, larangan tersebut ditarik oleh ketua adat sehingga masyarakat dapat mengolah kopra.

sasi2.jpg sasi-kopra.jpg sasi-3.jpg kopra.jpg

Selepas acara perayaan itu, Oxfam melalui partner kami, Yayasan Sor Silai menjembati dialog  antara masyarakat desa dengan pengusaha dari tingkat kabupaten. Tujuan dari dialog ini adalah agar masyarakat dapat meningkatkan posisi tawar mereka. Dialog ini juga didukung dan disaksikan oleh para pejabat pemerintah.

 “Hasil diskusi ini sangat menggembirakan. Para pedagang dari Kabupaten bersedia membeli langsung dari Desa Atubul dan biaya transportasi ditanggung oleh pedagang!” kata Wahyu.

Dalam hati aku memuji kegigihan partner Oxfam, Yayasan Sor Silai, hal ini tidak mungkin terjadi apabila mereka tidak melakukan lobi di tingkat desa maupun kabupaten.

Bapak dan Ibu Swingly

Pagi ini kami berdiri di pelabuhan Saumlaki menunggu nelayan yang bernama Bapak Swingly.  Dari kejauhan tampak perahu katiting ukuran sedang melaju memasuki pelabuhan. Begitu mendekat, lelaki didalam perahu itu melambaikan tangan menyapa kami yang berdiri manyambut di ujung dermaga.

Melihat bentuk  dan ukuran perahu itu dari jarak dekat, lututku langsung lemas.

swingli001_tanimbar046.jpg

“Selamat pagi semua! Hari ini tangkapan kurang bagus. Beta hanya dapat beberapa ikat saja. Angin besar sekali semalam,” kata Pak Swingly.

swingli002_tanimbar058.jpg

Mendengar ucapan beliau, lututku jadi dua kali lebih lemas.

Perahu kecil itu membawa kami menuju desa lermatang yang terletak di kepulauan Tanimbar sebelah utara.  Begitu mendarat, Pak Swingly langsung membawa kami menuju rumah milik keluarganya. Didalam rumah kecil yang beratap sirap (daun kelapa) berukuran 3 x 7 m2, Pak Swingly harus hidup bersama dengan istri, anak-anak, menantu cucu, serta kedua orang tuanya.   Kehidupan mereka begitu sederhana. Tidak ada listrik, telephone, kompor gas, ac, dan peralatan elektronik canggih lainnya yang biasa kulihat di kehidupan perkotaan. 

swingli009_tanimbar160.jpg

Jelas buatku bahwa kehidupan mereka di desa itu tidak mudah dan berada di bawah garis kemiskinan. Melihat ketulusan mereka menerima kedatangan kami, hatiku benar-benar tersentuh. Tak banyak orang kota yang berlaku seperti mereka. Mereka benar-benar gembira.

Pagi itu aku menghabiskan waktu dengan bapak Swingly bercakap-cakap diatas perahu miliknya. Beliau bercerita tentang kehidupan sederhananya sebagai seorang nelayan yang harus melalui berbagai masa sulit.

“Dulu kami melaut hanya dengan menggunakan kapal kecil. Jarak tempuhnya paling hanya 200 meter dari bibir  pantai.  Sulit sekali mencari ikan kala itu. Tapi berkat Oxfam dan Yayasan Sor Silai, kami sekarang dapat menempuh jarak yang lebih jauh. Selain itu kami juga mendapat jaring untuk keperluan melaut.  Dengan keadaan cuaca yang tidak menentu seperti sekarang ini,  peralatan yang diberikan Oxfam benar-benar membantu kami,” kata Pak Swingly.

swingli022_tanimbar452.jpg

Siang itu Ibu Swingly menyiapkan makan siang untuk kami dari hasil kebun dan tangkapan ikan. Tak sampai hati aku memakan hidangan mereka, yang terpikir olehku bagaimana kalau makanan ini ternyata adalah supply makanan mereka untuk beberapa hari. “Duh, Tuhan tolong beri mereka rejeki yang lebih,”doaku untuk mereka.

Aku menghampiri Bu Swingly dan berterima kasih atas makan siangnya. Dia hanya tersenyum mengangguk. Sungguh dia wanita yang begitu pemalu tetapi sangat tangguh. Siang itu selepas memasak, Ibu Swingly bergegas hendak berkebun, dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan tersebut, aku, dan teman-teman mengikuti jejaknya.

             swingli010_tanimbar172.jpg      swingli011_tanimbar186.jpg      swingli014_tanimbar214.jpg

Didalam perjalanan aku banyak bertanya-tanya dengan Ibu Swingly tentang usaha perkebunan miliknya.

“Kami menanam ubi-ubian, kombili, pisang dan keladi. Tapi belakangan ini hasil kebun tidak begitu baik. Dulu kami bisa menanam kombili dan ketika panen buahnya besar, sekarang jadi kecil. Tahun lalu susah hujan, jadi kami harus beli beras,” kata beliau.

swingli016_tanimbar222.jpg

Selepas berkebun kami kembali ke desa dan bergegas pulang karena hari sudah hampir petang. Ketika kami pulang, seluruh desa melambaikan tangan sambil berkata ,”Ibu datang kembali ke Lermatang, nanti kita makan ikan lagi!”  Aku hanya tertawa dan menaiki perahu katingtingku yang sudah menunggu untuk mengantar kami ke desa Saumlaki. Tetapi kali ini kami menumpang dua perahu, bukan satu karena belakangan menurut Pak Swingly, kekuatan tampung perahu miliknya hanya untuk 3 (tiga) orang, sementara sebelumnya jumlah kami berdelapan.

Musrembang: Dari rakyat untuk rakyat.

Pagi ini Wahyu mengetuk kamarku dan berkata bahwa teman-teman sudah menungguku. Tanpa buang banyak waktu, aku mengambil ransel dan menemui mereka di lobbi hotel. Agenda pagi itu adalah menghadiri pertemuan antara masyarakat desa, kepala desa, pemerintah kabupaten.

Sesampai di tempat pertemuan, aku mulai bercakap-cakap dengan beberapa orang yang kutemui di beberapa desa kunjungan kami sebelumnya. Aku mengambil tempat duduk dimuka, tepatnya disamping wahyu agar dapat bertanya langsung apabila ada hal yang tidak kumengerti. 

musrembang1.jpg

Pertemuan ini berlangsung dari pagi sampai sore hari. Didalam forum ini masyarakat menumpahkan keluh kesah mereka kepada pemerintah serta keinginan dan cita-cita mereka.

musrembang2.jpg

Melalui pertemuan ini aku mengetahui bahwa pemerintah kabupatenpun memiliki keterbatasan yakni tidak memiliki sumber daya manusia yang cukup sehingga proses musyawarah perencanaan pembangunan yang seharusnya melibatkan rakyat desa tidak terjadi. Dinas-dinas pemerintah  malahan membuat usulan program di tingkat kabupaten untuk kemudian disosialisasikan di tingkat kecematan. Sementara seharusnya usulan program tersebut berangkat dari masyarakat dan untuk masyarakat.

wahyu3.jpg

 “Oxfam dan Yayasan Sor Silai melihat peluangan ini dan mencoba memfasilitasi proses perencanaan Musrembang tahun 2008 mendatang. Senang rasa bahwa ada komitmen dari pemerintah kabupaten dan masyarakat desa untuk bersama-sama mau menyukseskan musyawarah di masa yang akan datang,” kata Wahyu.  “Dari rakyat, untuk rakyat,” sahut salah satu peserta yang disambut meriah oleh tepukan tangan.

Kembali ke Ibukota Jakarta

Ketika tiba waktu kami untuk kembali ke Jakarta, ada rasa haru yang menyelimuti hatiku karena aku menyadari bahwa teman-teman baru yang kutemui di Tanimbar menghadapi persoalan yang tidak mudah.  Dengan segala keterbatasan, mereka berusaha bertahan hidup demi anak dan keluarga. Ada terbesit rasa bangga dalam diriku bahwa Oxfam melakukan hal-hal yang luar biasa dampaknya buat kehidupan orang-orang miskin dan pulau-pulau kecil ini. Terakhir, aku sempat malu mengingat kekhawatiranku yang tidak beralasan. Pulau Tanimbar memang terpencil, tetapi pengalaman yang aku dapatkan sungguh sangat luas, seluas lautan yang menghantarkan kami kembali menuju Jakarta.

Selamat tinggal Tanimbar, selamat tinggal kawanku!

Categories: Campaign

5 responses so far ↓

  • Sharon // October 20, 2007 at 4:04 am

    Hi , I cannot understand bhasa, but what i could gater little is that it was for you a life time experience. I can very well understand the pain and suffering that people face while living in a far and one corner ofthe world. Keep visiting and keep contributing ur experience and keep supporting our project, Thanks a million ! and all the best !

  • cynthia // October 22, 2007 at 1:42 am

    Mel, wonderful story. Just need to make the picture prettier with good technique on resized .

  • wahyu // October 22, 2007 at 6:44 am

    Emang beda ya, kalo orang media yang nulis.

    Kalo saya, orang program yang nulis jadinya terlalu bernuansa program. usul nich:
    1. Tim media sering-sering ke lapangan donk supaya banyak cerita bernuansa beda tentang program n masyarakatnya.
    2. kapasitasi kami donk sehingga bisa menulis juga dengan sense selain progamatik.

  • syarif // May 27, 2008 at 12:39 pm

    beta pengen sekali bekunjung kesana…. kira-kira berapa ongkos transportnya dari jakarta..???

  • marthin // May 27, 2008 at 12:43 pm

    itu kampung saya…. sudah brapa lama saya g pulang.. berapa biaya transport dari bogor… naik angkot 08 bukan……

Leave a Comment