Oxfam GB in Indonesia In Action

International Women Day: Kalau Dewi Sartika saja bisa, Kenapa kita tidak?

March 27, 2008 · 1 Comment

 cynthia.jpg

By Cynthia Dewi Maharani, Program Officer Building Opportunity

 

Tanggal 8 Maret lalu, saya selaku warga perempuan di dunia ikut merayakan “International Woman Day”. Sebuah hari besar yang dilatar belakangi oleh rangkaian perjuangan yang tidak mudah yang dilakukan oleh para kaum perempuan di berbagai dunia. Berbagai aksi telah dilakukan mulai dari jaman Yunani Kuno sampai ketika perempuan - perempuan paris menyerukan “liberty, equality, fratenity” bahkan sampai pada jaman perempuan Jawa Barat bernama Dewi Sartika mendirikan sakola Istri (sekolah perempuan) dan rangkain perjuangan - perjuangan perempuan lainnya yang dilakukan sampai masa kini.

Saya memperingati hari besar tersebut dengan merefleksikan diri saya sebagai perempuan di saat ini yang masih kerap mengalami ketidakadilan. Kata-kata seperti Perempuan harus….rasanya udah sangat akrab di telinga saya. Sebagai anak yang dibesarkan dalam tradisi Jawa, biasanya kalimat itu diikuti dengan berbagai hal misalnya: pandai memasak, lemah-lembut dan sopan, pandai mengatur rumah dan mengurus keluarga. Hal itu ditanamkan sejak perempuan masih menjadi anak hingga menjelang remaja dan akhirnya berumah tangga. Kalau tidak bisa memenuhi hal-hal itu, orang akan menganggap si anak gadis gagal menjadi perempuan ideal.

 Sebaliknya, jarang sekali saya mendengar kata-kata “Laki-laki harus..”. Kalaupun ada, keharusan yang mereka sandang adalah memimpin dan menafkahi keluarga. Karenanya mereka memiliki hak untuk dilayani dan diurus.

 Saya mungkin salah satu dari perempuan yang tidak ideal itu. Saya tidak bisa memasak, jauh dari lemah-lembut, tidak pandai mengatur rumah apalagi mengurus keluarga. Sebaliknya, disaat teman-teman seusia saya sudah menikah, saya masih sibuk bekerja dan berpergian kemana-mana. Namun, dalam hati saya bertanya, kenapa perempuan harus begitu? Apakah benar, jika tidak jadi perempuan ideal, lantas saya menjadi dosa atau tidak pantas, seperti yang selalu mereka ucapkan?

 Lantas saya teringat, ketika tempo hari mengikuti pelatihan tentang agama dan ketidaksetaraan jender yang diselenggarakan Oxfam di Bali. Lucunya, saya baru sadar, bukan hanya masyarakat Jawa yang menginginkan hal ideal untuk perempuan.

Di sela-sela pelatihan itu, teman dari Vietnam bercerita Confucian mengharuskan perempuan lemah lembut, tahu bersikap, pandai menjaga lidah dan melayani serta menghormati tetua (para laki-laki). Di Kamboja, perempuan harus pergi bertani sepanjang hari dan mengurus rumah tangga sedangkan suami lebih banyak santai di kedai. Ada beberapa kesamaan selain besarnya harapan ideal yang dibebankan kepada perempuan. Kedua adalah kentalnya masyarakat partriarkal yang mengakibatkan peran dan fungsi sosial antara laki-laki dan perempuan tidak seimbang. Buktinya, coba saja hitung, berapa jam yang perempuan habiskan dari bangun pagi; menyiapkan sarapan sampai malam hari. Bandingkan dengan laki-laki!

Dalam masyarakat, lantas, perempuan  menjadi warga nomer dua terutama dalam peranan ekonomi, pendidikan, sosial-politik dan hubungan kemasyarakatan. Acapkali perempuan menjadi tersisih dari berbagai hal. Betapa tidak adilnya.

 Terus apa yang bisa dilakukan untuk menghilangkan ketidak adilan ini? Mulai dari diri anda tentu saja. Misalnya mulai berbagi tugas rumah tangga dengan suami. Hal sama bisa digulirkan di tetangga sekitar dengan melibatkan perempuan dalam rapat desa, memberikan ruang berpendapat yang sama dan saling menghormati. Meski akan butuh waktu lama untuk mengubah persepsi yang sudah terbentuk dalam masyarakat, namun kenapa tidak mencoba dari sekarang. Kalau Dewi sartika saja bisa, Kenapa kita tidak?

Categories: Campaign · Development · Humanitarian
Tagged: , , , , , , , , , , , , ,

1 response so far ↓

  • _€ny_ // April 7, 2008 at 7:36 am

    Setuju…dizaman merdeka peran gender dalam masyarakat tidak boleh dibeda-bedakan..karena kedudukan antara laki-laki dan perempuan dihadapan Tuhan sama.

Leave a Comment