Oxfam GB Indonesia

Oxfam Aceh: Kurangnya Air Bersih dan Sanitasi di Indonesia

April 11, 2008 · 8 Comments

“Bu, airnya mati!” teriakan tersebut yang pertama kali menyambut saya  setiba dirumah sore itu. 

 

Paling susah memang kalau air tidak berfungsi. Pekerjaan rumah bisa sangat terganggu, mulai dari mencuci baju, piring bahkan sampai urusan mandi. Yang repot kalau air tidak mengalir sampai satu harian, sudah pasti saya harus membeli air berember-ember. Yang tentu saja harganya tidak murah. Hah, itu baru satu hari, saya sudah mengeluh!

 

Tidak dapat saya bayangkan bahwa dibelahan dunia lain, masih  banyak manusia yang harus menderita akibat kekurangan air dan harus berjuang untuk mendapatkan air bersih. Ironisnya, itu terjadi setiap hari.  Air bersih memang memegang peranan penting dalam berbagai segi kehidupan manusia. Tanpanya, lingkaran kehidupan ini pasti timpang. Berbagai macam penyakit mengancam jiwa manusia bahkan merenggutnya.  Dalam Booklet UN Water for Life Decade [2005 -2015] dinyatakan bahwa kekurangan air bersih dan sanitasi yang tidak memadai menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit seperti diare, kolera, disentri, tifus, hepatitis, polio, cacingan. Hal ini berakibat fatal kepada manusia  yang hidup di negara berkembang. 

 

Di Indonesia kasus penyakit seperti diatas dan masalah kekurangan/ketiadaan air bersih serta miskin sanitasi seringkali dialami. Saya teringat dengan sebuah proyek Oxfam yang menangani masalah sanitasi dan air bersih yang dilakukan pada sekitaran tahun 2007 di Kabupaten Nias. Tepatnya di Dusun Tanöniko’o, Desa La’uri, Kecamatan Gidö, Kabupaten Nias.  Di dusun tersebut, terutama di musim hujan selalu saja ada warga dusun tersebut, terutama anak-anak, yang meninggal dunia karena diare dan juga malaria. 

 

Menurut Kepala Desa La’uri, Idaman Jaya Zendratö, wabah diare ini disebabkan oleh kurangnya air bersih

dan buruknya sanitasi. Selain itu, warga mempunyai kebiasaan membuang kotoran sembarangan. Sering kali warga membuang kotoran manusia di ladang. Sementara untuk memenuhi kebutuhan air minum sehari-hari mereka harus mengambil air dari Sungai La’uri yang kebersihannya tidak dapat dijamin. Warga juga kerap mengambil air minum di sumur yang keruh dan letak sumur-sumur tersebut di belakang rumah tempat warga membuang kotoran dan memelihara babi.

 

Menurut Public Health Promotion Oxfam, Ibena Hulu, awalnya sangat sulit mengubah kebiasaan kehidupan masyarakat di Dusun Tanöniko’o.. Program air bersih dan sanitasi memang hanya ditujukan ke Dusun La’uri yang letak lebih mudah terjangkau dan lebih terbuka terhadap pendatang. 

 

Sampai akhirnya warga Desa Tanöniko’o mulai melihat perubahan terutama yang berkaitan dengan sanitasi dan air bersih di Dusun La’uri dan mereka mulai membuka diri. 

 

Maka pada bulan Oktober tahun 2006 Oxfam melakukan assessment di Dusun Tanöniko’o.   Dari hasil assessment itu ternyata sangat menggembirakan warga Dusun terpencil itu.    “……Mata air berada diatas bukit dan sangat memungkinkan untuk mengalihkannya ke Dusun Tanöniko’o secara natural dan air mengalir dibawah batu sehingga jernih sekali…..”kata Irfan ST Public Health Promotion Leader.

 

Masyarakat bahu membahu bersama Oxfam membangun dusun mereka. “Begitu air mengalir rasanya bahagia sekali,” tambah Irfan ST.

 

Sekarang wargapun dapat menikmati kehidupan dengan air bersih dan sanitasi yang layak.  

 

“Saya biasanya mengambil air dari sumur dangkal di halaman belakang. Saat ini, saya masih mengambil air dari sana, tetapi sekarang tidak digunakan untuk minum. Air tersebut digunakan untuk membersihkan WC dan kamar mandi. Untuk minum saya mengambilnya dari keran air karena lebih bersih dibandingkan dengan air dari sumur…..Saya senang karena jaraknya lebih dekat dibandingkan dengan sumur.  Sementara air dari sumur tidak bersih. Saya lebih suka disini karena lebih dekat dan bersih.  Saya tahu Oxfam yang membangun semua ini, tetapi saya tidak begitu mengerti mengenai proses pembangunannya. Tetapi yang terpenting mereka telah berdiskusi terlebih dahulu dengan masyarakat….Saya senang, bukan hanya saya, seluruh warga juga sangat berterima kasih. Mengambil air jadi lebih mudah,” Kata Martina dari Dusun Tanöniko’o

 

 

Categories: Campaign · Development · Humanitarian
Tagged: , , , , , , , , , ,

8 responses so far ↓

  • rizki amalia // May 6, 2008 at 7:18 am | Reply

    good job, i really proud of what you have done in Nias. memang sekarang usaha yag paling tepat untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit adalah dengan adanya air bersih. tindakan yang telAH dilakukan sangat tepat karena menumbuhkan kesadaran masyarakat akan air bersih.

  • andityo // May 12, 2008 at 6:11 am | Reply

    sangat mengharukan..
    jadi pengen ikut berjuang..
    doakan, saya jadi pejuang selanjutnya..

    salam

  • Robert Manurung // May 26, 2008 at 2:23 am | Reply

    tapi kenapa ya pemerintah kita tenang-tenang saja ?

    aku minta izin ya nitip link artikelku mengenai “dua tahun bencana lumpur panas di Sidoarjo” :

    http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/05/25/dua-tahun-bencana-lapindo-pidato-presiden/

    terima kasih

    Salam merdeka

  • Anyone // June 19, 2008 at 2:42 am | Reply

    Somehow i missed the point. Probably lost in translation :) Anyway … nice blog to visit.

    cheers, Anyone.

  • Iman Sulaiman // August 21, 2008 at 8:47 pm | Reply

    Sebetulnya untuk memnuhi kebutuhan air minun di Aceh TIDAK SUSAH, asalkan para decition maker SEDIKIT peduli dengan tanggung jawab moral terhadap jabatan yg diberikannya.
    Dg air baku yang kualitasnya cukup bagus. sehingga bisa dg pengolahan yg murahpun tidak bisa terpenuhi syarat kualitas menurut Permenkes 902 / th 2002 karena ketidak pedulian decition maker dg kata lain untuk pembubuhan larutan klor saja sebagai tanggung jawab sehatnya air belum bisa dilakukan , padahal cukup MURAH dan MUDAH.

    Sebetulnya ACEH BISA !!!

  • Cahyana // October 6, 2008 at 10:46 am | Reply

    Buat Bu Yanty Lacsana,

    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H. Mohon maaf lahir bathin.

    Salam,
    Cahyana

  • Yayat Kurniawan // October 20, 2008 at 3:56 pm | Reply

    salah satu kendala mengenai penyediaan air bersih di Kabupaten Nias adalah terbatasnya sumber air baku baik kualitas maupun kuantitas. secara kualitas sumber air baku di Kabupaten Nias khususnya di bagian utara (Lahewa, Lahewa Timur dan Afulu) kualitas air permukaan nya gambut sehingga susah untuk diolah, sedangkan secara kuantitas sangat terbatas di beberapa desa hanya terdapat mataair kecil yang lokasi nya lebih rendah dan cukup jauh dari permukiman penduduk. untuk desa-desa yang tidak terdapat mataair sistem penyediaan air bersih yang realistik adalah dengan penampung air hujan, curah hujan di Kabupaten Nias cukup tinggi. Sejak februari 2008 saya kebetulan bekerja untuk IFRC menanngani project Watsan di Kabupaten Nias bagian utara.

  • Imelda // February 11, 2009 at 10:08 am | Reply

    Dear Irene,

    Mungkin bisa kirimkan proposalnya ke Oxfam saja. Mohon dialamatkan di Jln. Taman Margasatwa No. 26, Ragunan. Attn. Country Director

Leave a Comment