Oleh: Aloysius Suratin & Yusnita Ike Christanti, Oxfam GB Indonesia Office, Makassar programme
Perasaan takut ditolak membuat Siti Nuraida (38 tahun) awalnya sungkan untuk menjadi peserta kegiatan Building Opportunities. Tapi kegigihan fasilitator kini mengubah semuanya. Siti Nuraida menemukan kembali kepercayaan dari tetangga dan kelompoknya.
“Saya bukan penduduk asli di sini. Saya berasal dari Kupang. Suami saya yang berasal dari desa ini. Mulanya, kami tinggal di Kupang. Tapi karena hidup di sana susah, kami pindah ke Sukanaeyo. Kebetulan, waktu itu mertua juga sedang sakit. Jadi sambil menjenguk. Sejak itu saya mengajak suami menetap saja di Sukanaeyo.”
Takdir tak selamanya dapat diraih. Kesulitan ekonomi menyebabkan suami Bu Siti kembali merantau ke Flores. Tinggallah Ibu Siti dan 2 anaknya serta satu orang keponakan dengan Sang Mertua. “Hampir tiga tahun semenjak suami ke Flores saya tidak pernah menerima kabar apapun. Satu-satunya kabar yang saya dengar ialah dia telah menikah lagi…” Ujar Bu Siti Lirih. Mendapat kabar demikian, Bu Siti mengambil sikap. ”Saya pindah dari rumah mertua, membawa 2 anak saya dan tinggal di rumah saudara mantan suami.”
Upaya untuk terus bertahan demi kedua anaknya terus dilakukan Bu Siti. “Saya bekerja apa saja. Pokoknya bisa menghasilkan uang. Mencuci baju. Membantu tetangga membuat kue. Kadang mencari batu untuk bahan bangunan di sekitar hutan Pulau Makassar.”
TAKUT DITOLAK
Menjadi janda dan kehidupan ekonomi yang terhimpit melahirkan ujian baru bagi Bu Siti. “Saya tidak dipercaya tetangga. Pernah saya berniat meminjam modal untuk membuka usaha sendiri, tapi siapa yang percaya dengan pendatang.” Ujar Bu Siti. Tatkala di Desa Sukanaeyo digulirkan Program Pengembangan kecamatan (PPK), Bu Siti juga tidak berhasil memperoleh pinjaman modal karena Fasilitator Desa PPK tidak percaya kepadanya. “Perasaan tidak dipercaya oleh orang lain itu terus membebani saya. Saat LINTAS datang ke desa untuk sosialisasi program dana bergulir, saya sebenarnya tidak berani minjam atau ikut kelompok. Takut ditolak. Tetapi karena ingin menolong mertua, saya mau ikut kelompok dan mengajukan modal usaha tetapi hanya memasang nama saja. Namun, pendamping kelompok mengetahui bahwa saya adalah janda, punya tanggungan, dan tidak punya rumah. Pendamping kemudian memasukkan nama saya menjadi anggota kelompok.”
“Saya menerima modal kerja lima ratus ribu. Uang itu saya gunakan untuk usaha jualan kue di sekolah desa dan di kampung.” Bu Siti membeli alat-alat memasak dengan modal itu. Ia sekarang memiliki kompor, wajan, dan bahan-bahan kue. ”Keponakan ikut membantu menjajakan kue-kue itu. Saya membuat makanan yang disukai orang Sukanaeyo. Ada pisang goreng, ubi goreng, dan kue apa saja yang disenangi pembeli.”
Kesulitan hidup mengajarkan Bu Siti jeli membaca peluang. “Pada musim buah, modal saya putar. Saya menjual buah keliling seperti jeruk dan langsat.” Teknik alih usaha ini ternyata berbuah manis. “ Saya dapat melunasi pinjaman tepat waktu pada kelompok. Dan, saya bisa minjam modal lagi 1 juta. Dengan tambahan modal saya tetap menjual kue dan buah. Saya memperoleh untung bersih 10 – 15 ribu per hari dari jualan kue. Kalau jualan buah lebih tinggi. Dua puluh sampai dua puluh lima ribu rupiah sehari.”
IKUT PELATIHAN
Keinginan untuk menambah keterampilan membuat Bu Siti tertarik untuk ikut pelatihan pengolahan ikan pada 18-21 November 2007. Pelatihan yang dilakukan oleh Oxfam GB bersama mitra lokal JPKP Buton ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan kaum perempuan dalam mengolah ikan menjadi bahan makanan. Kegiatan pelatihan ini didanai melalui dana Unwrapped Gift Fund Oxfam GB.
“Saya ikut pelatihan ini karena tertarik bagaimana ikan bisa diolah menjadi makanan yang lain. Saya dapat ilmu cara analisis usaha, silaturahmi dengan teman-teman. Sekaligus nambah kawan.” Ujar Bu Siti. “Setalah pelatihan, saya punya pikiran untuk membuat makanan dari ikan. Di sini belum ada yang jual. Rencananya membuat krupuk ikan. Tapi saya juga mau coba buat bakso dan nugget.”
Apakah Bu Siti lupa pada kelompoknya. Ternyata tidak. “kalau modal saya sudah bertambah, saya beli gerobak untuk menjual makanan keliling kampung dan sekolah. Bersama kelompok, kami punya rencana membuat kerupuk ikan karena belum ada di Buton.” (Wawancara: Yusnita Ike Christanti; Editing: Aloysius Suratin).
Building Opportunities Project is a co-finance project between European Union and Oxfam GB. The project period is 48 months from 1 February 2006 – 31 January 2010. The goal of the project is to ensure food and income security for poor and vulnerable household living in small islands in Indonesia to develop sustainable livelihoods. Project sites are in Tunda Island (Banten Province); Buton/Muna Islands (Southeast Sulawesi Province), Tanimbar and Aru Islands (Maluku Province).



1 response so far ↓
ardi // August 8, 2008 at 5:59 pm |
salam….
aku mau tanya, apakah Oxfam punya program kegiatan yang bisa di lakukan oleh mahasiswa?
aku sempat merasakan beberapa kegiatan dengan sebuah NGO di bandung di bidang anggaran (pro poor budget)…dan menurutku merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan sekali….
terimakasih….
Carpe diem!!