“Waktu itu saya marah sekali. Saya bilang jangan datang hanya bohong-bohong terus, kami ini sudah seperti sayur kangkung saja, dijual kiri dan kanan!”
Indonesia telah melalui perjalanan panjang dan jauh. 63 tahun umur Republik ini. Banyak peristiwa yang mewarnai jatuh dan bangkitnya bangsa ini. Mulai dari masuknya Timor Timur pada tahun 1976, sampai pada peristiwa lepasnya Timor Laste dari Negara Republik Indonesia sejak tahun 1999.
Peristiwa itu mengakibatkan puluhan ribu keluarga yang pro pada integrasi Indonesia harus keluar dari daerah tersebut. Salah satu dari puluhan ribu orang itu adalah Pak Herman Nahak dan keluarga. Pak Herman tiba di Timor Barat pada tahun 1999 dan segera berdiam di sebuah barak di daerah Air Sagu. Selama beberapa tahun Pak Herman dan keluarga beserta para pengungsi yang lain, selalu mengharapkan bantuan dari pemerintah dalam urusan makanan. Tetapi hal ini meresahkan Pak Herman karena menurut Pak Herman kebutuhan keluarganya tidak hanya ukuran perut tetapi juga menyangkut perumahan, penghasilan yang tetap, perasaan aman dan nyaman serta masa depan anak-anaknya. Di pertengahan tahun 2002, barulah pemerintah Indonesia memberikan bantuan berupa uang sebesar Rp 5 juta untuk setiap keluarga yang mau keluar dari kamp pengungsian. Pak Herman menyambut baik bantuan tersebut.
“Tetapi, uang lima juta rupiah ini akan cepat habis apabila tidak saya gunakan dengan bijaksana. Saya dan keluarga akan merana lagi,” kata Pak Herman. Kemudian Pak Herman mengumpulkan beberapa orang teman untuk berunding, akhirnya kami setuju untuk membeli sebidang tanah yang cukup luas untuk kemudian membangun rumah-rumah untuk tempat mereka tinggal.
“Kami keluar dari camp pengungsian pada tahun 2004. Pada awalnya kami membuat rumah-rumah darurat saja,” kata Pak Herman. “Ketika para petugas Oxfam datang pada tahun 2007, kamipun masih tinggal di rumah-rumah darurat tersebut, ” lanjut beliau. ”Pada awalnya kami menolak Oxfam karena sebelumnya sudah banyak LSM lokal maupun internastional bahkan pemerintah yang datang hanya untuk ambil data dan kemudian menghilang, ” kata Pak Herman. ”Waktu itu saya marah sekali. Saya bilang jangan datang hanya bohong-bohong terus, kami ini sudah seperti sayur kangkung saja, dijual kiri dan kanan!” tambah Pak Herman.
Oxfam membantu para eks pengungsi tersebut untuk kembali mendapatkan tempat tinggal yang layak. Melalui beberapa kali proses diskusi dan negosiasi, serta kerja keras, akhirnya rumah ukuran 5 x 6 meter menjadi milik mereka. “Saya gembira karena akhirnya punya rumah. Padahal dulu saya sempat ancam Oxfam, saya bilang apabila Oxfam tidak balik dalm waktu dua minggu, kami akan pergi serbu kantor Oxfam,”kata Pak Herman sambil tersenyum.
Untuk hidup selayaknya, para eks pengungsi ini tidak hanya membutuhkan rumah, mereka juga membutuh air sebagai salah satu sumber penghidupan. Oxfam beserta mitra lokal seperti Center for Internally Displaced People Service (CIS) dan Yayasan Peduli Indonesia Atambua (YPI) kembali membantu mereka membangun akses air bersih beserta dengan WC dan kamar mandi. Selain itu, Oxfam memberikan beberapa training air & sanitasi serta kesehatan publik yang berguna untuk meningkatkan kesadaran para eks pengungsi tentang kebersihan.
Oxfam beserta para mitranya juga membantu para eks pengungsi dalam bidang pertanian. “Akhirnya setelah melalui proses diskusi, kami setuju untuk membuat sebagian daerah tempat tinggal kami menjadi daerah perkebunan sayur,” lanjut Pak Herman. Oxfam menyediakan alat-alat pertanian seperti pacul, sabit, linggis sampai dengan motor air, selain membagi bibit untuk pertanian. “Kami diajari cara membuat pupuk organik dan obat pemberantas hama, Justru dengan menggunakan bahan organik dan obat pemberantas hama buatan sendiri, tanaman kami malah lebih kuat dan bagus daripada menggunakan pupuk kimia,”kata Pak Herman.
“Berkat Oxfam, saya tidak menyesal dan bangga menjadi bagian dari Indonesia,”kata Pak Herman.
Dalam rangka membantu penyelesaian masalah pemukiman pengungsi di Timor Barat, Oxfam didukung oleh dengan mitra lokal seperti Center for Internally Displaced People Service (CIS) dan Yayasan Peduli Indonesia Atambua (YPI). Proyek ini didanai oleh European Union bekerjasama dengan Oxfam GB.





1 response so far ↓
ayahrafi // November 9, 2008 at 3:19 pm |
nice story..
Good luck ya…
salam,
ayahrafi
ex:IOM, IRC, CARE Int Aceh programme.
currently: study in KIT, amsterdam