Berbagi Pengalaman untuk Kesiapsiagaan

Image

 

ImageImageImageImageImage

Kota Padang dan sekitarnya dihantam gempa bumi yang melumpuhkan  hampir seluruh sendi kehidupan empat tahun silam. Sebuah tragedi. Semua meratap. Namun terlalu lama meratapi keadaan tak akan membuat yang sudah hilang akan kembali.

Tiga tahun berlalu Kota Padang kini berubah sudah. Pendampingan yang banyak dilakukan oleh lembaga-lembaga sosial kemanusiaan mulai menampakkan hasil. Salah satu perubahan yang kini bisa tertangkap mata adalah hampir di seluruh penjuru Kota Padang banyak ditemukan rambu-rambu evakuasi. Pengetahuan tentang kesiapsiagaan terus gencar disosialisasikan. Masyarakat hingga aparatur pemerintah ditingkatkan kapasitasnya, Kelompok Siaga Bencana dibentuk di seluruh nagari (setingkat desa).

Dengan semangat saling membagi pembelajaran inilah yang membuat pemangku kepentingan dari Kabupaten Kupang Tengah melakukan kegiatan studi banding ke Kabupaten Agam dan Padang Pariaman juga berdiskusi dengan Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Provinsi Sumatera Barat untuk memperoleh gambaran tentang upaya penanggulangan bencana secara utuh pada 18-20 Maret lalu. Saat ini di Kabupaten Kupang Tengah, Oxfam bersama CIS Timor sedang mengerjakan program pangarusutamaan PRB dalam kesiapsiagaan sektor air bersih, sanitasi, dan promosi kesehatan. Sedangkan di Kabupaten Agam dan Padang Pariaman, Oxfam bersama dengan PKBI Sumatera Barat dan Jamari Sakato sedang melaksanakan program membangun ketangguhan terhadap bencana.

“Harapan kami dari kegiatan ini adalah agar jejaring terbentuk karena salah satu upaya untuk mempercepat upaya kesiapsiagaan adalah dengan memperkuat jejaring untuk saling bertukar informasi dan pembelajaran,” kata Kepala Bidang Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Kupang Tengah Lemuel Lewan yang didaulat sebagai ketua rombongan kegiatan kunjungan belajar ini. Lemuel menambahkan, secara ancaman Kabupaten Kupang Tengah sendiri rawan terhadap banjir, longsor, puting beliung, dan kekeringan.

Saat semua pihak menyadari  bahwa urusan pengurangan risiko bencana adalah tanggung jawab bersama, maka ketangguhan masyarakat akan segera terbentuk. Upaya untuk menyatukan bermacam komonen tadi salah satunya adalah melalui sebuah forum. Sejak dikukuhkan oleh Gubernur Sumatera Barat pada 30 September 2010, Forum Pengurangan Risiko Bencana Provinsi Sumatera Barat telah menjadi ajang untuk saling berbagi pembelajaran antar anggotanya yang berasal dari berbagai komponen masyarakat. Lebih dari 100 organisasi terlibat dalam inisiasi pembentukan forum ini.

Namun seiring berjalannya waktu, militansi anggota forum mulai teruji. Satu demi satu karena persoalan kesibukan atau mutasi, anggota yang aktif mulai menyusut. “Pembelajaran dari forum ini adalah masih sulit merangkul SKPD. Meski begitu, dengan dukungan penuh dari BPBD Provinsi, anggota yang aktif terus melakukukan upaya pengurangan risiko bencana di tingkat kabupaten atau kota. Termasuk mendorong terbentuknya Forum PRB di tingkat kabupaten atau kota,” kata Lany Verayanti anggota forum PRB.

Salah satu bentuk kegiatan rutin forum adalah diskusi yang oleh sering mereka sebut dengan coffee morning. “Justru melalui kegiatan coffee morning yang berkesan santai ini, ide dan aspirasi anggota bisa tersampaikan untuk kemudian dijadikan agenda bersama,” ujar Patra Rina Dewi salah seorang anggota forum. Forum PRB juga berfungsi membantu advokasi tentang masalah penanggulangan bencana, termasuk yang masih terus dilakukan hingga saat ini adalah agar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat bisa memasukkan pengurangan risiko bencana dalam kurikulum sekolah.

Bagi Kabupaten Kupang Tengah, pembelajaran tentang forum ini menjadi penting, karena setelah pulang dari kunjungan belajar ini, mereka akan membentuk Kelompok Kerja (Pokja) Pengurangan Risiko Bencana. Pembelajaran dari Forum PRB provinsi Sumatera Barat akan berguna dalam pembentukan Pokja nantinya.

Kreativitas

Menggalang partisipasi masyarakat untuk terlibat aktif dalam usaha pengurangan risiko bencana bukan sebuah perkara yang mudah. Tetapi dengan kreativitas hal tersebut bisa disiasati. “Untuk mengajak masayarakat peduli dengan kegiatan pengurangan risiko bencana, kami gunakan banyak cara. Sosialisasi kami lakukan mulai dari warung kopi, kelompok pengajian, acara kesenian, perkumpulan olahraga hingga menjalin kerjasama dengan banyak ormas termasuk menggandeng para jurnalis dengan membentuk Komunitas wartawan Siaga Bencana Kabupaten Agam agar informasi pengurangan risiko bencana bisa menyebar luas,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Agam Bambang Warsito.

Upaya yang sama juga dilakukan oleh BPBD Kabupaten Padang Pariaman. Agar informasi mengenai pengurangan risiko bencana bisa diterima masyarakat, mereka banyak melibatkan tokoh adat sebagai pintu masuknya melalui pertemuan-pertemuan informal dengan masyarakat. Untuk mendapat masukan dan menjalin koordinasi, setiap hari Rabu, BPBD Kabupaten Padang Pariaman mengadakan pertemuan rutin dengan LSM. Komunikasi dengan kelompok siaga bencana juga rutin dilakukan melalui media radio komunikasi.

Selain di level pemangku kepentingan, kesiapsiagaan tersebut juga nampak di tingkat komunitas termasuk sekolah. Di Nagari Canduang Koto Laweh Kabupaten Agam dan Dusun Olo Desa Sunur, Kecamatan Nan Sabaris Kabupaten Padang Pariaman, kelompok siaga bencana menjadi garda depan dalam kegiatan pengurangan risiko bencana.

Urusan air bersih menjadi persoalan besar di Nagari Canduang Koto Laweh yang berbukit-bukit. Bagi masyarakat problem ini berarti kerentanan karena bisa menimbulkan bencana bila tidak segera dicari jalan keluarnya.

Atas usulan kelompok siaga bencana dan pemerintah kecamatan akhirnya dari DPRD Kabupaten Agam membantu pembangunan sarana air bersih dan fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK). Masih terkait persoalan air bersih, saat ini  yang masih dalam proses pengerjaan adalah pemipaan yang dananya berasal dari kontribusi warga dan pemasangannya dikerjakan secara gotong-royong.

Lain lagi kiprah kelompok siaga bencana Dusun Olo Desa Sunur, Kecamatan Nan Sabaris Kabupaten Padang Pariaman. Pada saat gempa bumi 2009, daerah ini termasuk terkena dampak yang parah. Ancaman tsunami juga sangat dekat dengan mereka karena letaknya yang hanya berjarak kurang lebih 1 kilometer dari bibir pantai. Pada saat bencana terjadi, sangat sulit untuk mendapatkan makanan dan obat-obatan. Keadaan ini membuat kelompok siaga bencana berinisiatif membuat kebun ketahanan pangan dan apotik hidup. Hasil dari kebun ini juga digunakan untuk membiayai keberlanjutan program dari kelompok siaga bencana.

Pada level sekolah upaya pengurangan risiko bencana juga sudah mulai dilakukan seperti yang dilakukan di SD Negeri 08 Nan Sabaris Kabupaten Padang Pariaman. Guru dan murid di sekolah ini sudah dilatih tentang upaya pengurangan risiko bencana termasuk kesiapsiagaan sektor air bersih, sanitasi, dan promosi kesehatan. “Luar biasa, anak-anak sudah bisa membuat peta ancaman risiko. Harapannya itu bisa diterapkan di Kupang terutama oleh beberapa sekolah yang sudah dijadikan model, sehingga bisa mempengaruhi sekolah-sekolah lain dalam upaya pengurangan risiko bencana,” komentar Matheos Kepala Bidang TK dan SD Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kupang Tengah setelah mengamati dan berdialog dengan pengelola SD Negeri 08 Nan Sabaris.

Inspirasi

Bagi delegasi Kabupaten Kupang Tengah, kunjungan belajar ke Provinsi Sumatera Barat ini ternyata sangat menginspirasi dan berkesan. “Kunjungan ini sangat berkesan bagi saya karena pembelajaran yang saya peroleh sangat luar biasa. Saya melihat koordinasi antara SKPD dan lembaga lain sudah sangat bagus. Di bidang sanitasi lingkungan sudah ada terjalin kerjasama yang mantap antara Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga dengan PUSKESMAS,” kata Marylin Imelda Mooy dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang Tengah. Zarniel Wolenka dari CIS Timor juga mengungkapkan hal yang senada bahwa kunjungan ini sangat menginspirasi dan memotivasi dirinya untuk melakukan yang lebih baik lagi terkait upaya pengurangan risiko bencana di Kabupaten Kupang Tengah sepulangnya nanti. (Nugroho Arif Prabowo/Oxfam)***

About these ads

Comments are closed.