Author Archives: Nazla

Ajarkan Siswa Terlibat Pengurangan Risiko Bencana

Image

Siswa SDN 08 Nan Sabaris Kabupaten Padang Pariaman  mencuci tangan mereka  sebagai upaya untuk menjaga kesehatan diri.  (Foto: Nugroho Arif Prabowo/Oxfam)

 

Wajah-wajah belia itu berbinar ceria. Tangan mereka bergerak lincah membersihkan ujung jari hingga pergelangan tangan menggunakan sabun hingga dirasa bersih. Kegiatan mencuci tangan ini sudah menjadi kebiasaan bagi siswa SDN Nan Sabaris 08 Kabupaten Padang Pariaman. Guru-guru di sekolah tersebut telah menanamkan kepada para siswanya untuk selalu menjaga kesehatan dan kebersihan. “Setiap Hari Sabtu kami ada pelajaran tentang UKS (Usaha Kesehatan Sekolah). Dalam pelajaran tersebut kami diajarkan untuk mencuci tangan yang benar. Selain itu kami juga diajarkan untuk menjaga kesehatan diri sendiri juga menjaga kebersihan lingkungan, “ ujar Mila, murid kelas 6.

Upaya peningkatan kesehatan dan kebersihan di SDN Nan Sabaris 08 tersebut dimulai sejak sekolah tersebut mendapatkan pendampingan program tentang pengarusutamaan pengurangan risiko bencana  dalam kesiapsiagaan sektor air bersih, sanitasi, dan promosi kesehatan oleh Oxfam bekerjasama dengan PKBI Sumatera Barat. Program ini meliputi kegiatan fisik dan non fisik. Di bidang fisik berupa pembuatan fasilitas cuci tangan, rehabilitasi WC, pembuatan menara penampungan air bersih, pembangunan tempat sampah untuk pembuangan akhir juga pengadaan tong sampah pilah yang memisahkan sampah organik dan non organik.

Selain upaya yang bersifat fisik, kegiatan lainnya juga berupa pelatihan bagi siswa dan guru mengenai sanitasi dan promosi kesehatan yang diintegrasikan dalam kerangka besar upaya pengurangan risiko bencana.

 Kesiapsiagaan siswa dan guru

 Pada tingkatan siswa, diadakan pelatihan dokter kecil yang terdiri dari siswa kelas tiga hingga kelas lima. 25 orang siswa terpilih menjadi dokter kecil. Harapannya mereka nanti akan menjadi tutor sebaya bagi teman mereka untuk menularkan pengetahuan yang sudah mereka dapat. 

Siswa juga diajak untuk memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Para siswa tersebut dibawa keluar untuk mengamati keadaan lingkungan sekitar sekolah mereka. Pada kegiatan itu mereka menemukan banyak kotoran hewan yang tersebar dimana-mana. Saat itulah guru menerangkan bahwa kotoran hewan yang dibiarkan bertebaran merupakan sumber penyakit. Guru kemudian mengajak para siswa mengolah kotoran hewan tersebut menjadi pupuk kompos agar bisa bermanfaat bagi lingkungan.

“Anak-anak senang sekali dengan model pembelajaran seperti ini. Selain tidak bosan juga melatih kepekaan sosial mereka,” kata Aligustika Yetri, guru kelas 5 di sekolah tersebut. Aligustika menambahkan bahwa siswa juga diajarkan untuk memisahkan sampah organik dan non organik. Hasil dari temuan para siswa tersebut mereka tuangkan ke dalam sebuah peta risiko partisipatif yang dibuat oleh mereka sendiri. Tentu saja menggunakan gaya bahasa yang mereka pahami bersama.

Saat gempa bumi tahun 2009 lalu, sekolah ini termasuk menderita kerusakan yang berat. Kejadian itu amat membekas bagi siswa sehingga membuat kesadaran mereka tumbuh untuk selalu waspada terhadap bencana yang bisa datang lagi sewaktu-waktu. Rata-rata tempat tinggal siswa juga disekitar sekolah itu. Upaya yang disiapkan kepada siswa agar mereka selalu waspada adalah dengan mengajak siswa membuat standar operasional prosedur sehingga ketika terjadi bencana mereka paham apa yang harus mereka lakukan.

Tak hanya siswa, guru juga ditingkatkan kapasitasnya. Pada pelaksanaannya pihak komite sekolah ikut terlibat aktif dalam pelatihan. Agar informasi kesiapsiagaan ini tidak terputus, rencananya komite sekolah akan mengalokasikan anggaran untuk keberlanjutan kegiatan ini dengan dana mandiri.

Kerjasama 

SDN Nan Sabaris 08 juga bekerjasama dengan Puskesmas Pauh Kambar yang letaknya tak begitu jauh dari sekolah untuk mendampingi kegiatan UKS dan membina para dokter kecil.

“Biasanya saya berkunjung ke sekolah ini sebulan sekali untuk melakukan pemantauan UKS dan pembinaan kepada dokter kecil,” kata Silvia Hayati petugas kesehatan dari Puskesmas Pauh Kambar yang sudah dilatih tentang kesiapsiagaan bencana. Silvia adalah satu dari sepuluh petugas Puskesmas Pauh Kambar yang sudah dilatih untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang usaha pengurangan risiko bencana secara menyeluruh. Tak hanya tingkat Sekolah Dasar, petugas Puskesmas juga mendampingi Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas. Pada level Sekolah Dasar, sekolah yang didampingi sebanyak 26 buah, pada tingkat Sekolah Menengah Pertama 5 sekolah, dan Sekolah Menengah Atas sebanyak 3 buah.(Nugroho Arif Prabowo/Oxfam) ***

 

Radio Komunikasi Bantu Masyarakat Tingkatkan Kesiapsiagaan

Menjelang siang di halaman sebuah kantor. Tanah basah, hujan baru saja usai menjalankan tugasnya.

Seorang staf BPBD Kabupaten Padang Pariaman sedang melaksanakan tugasnya untuk memberikan informasi kesiapsiagaan kepada masyarakat melalui radio komunikasi. (Foto: Nugroho Arif Prabowo/Oxfam)

Seorang staf BPBD Kabupaten Padang Pariaman sedang melaksanakan tugasnya untuk memberikan informasi kesiapsiagaan kepada masyarakat melalui radio komunikasi.
(Foto: Nugroho Arif Prabowo/Oxfam)

Masuk ke dalam, di salah satu sudut ruangan seorang  pria sedang duduk menghadap ke arah meja. Diatas meja tersebut diletakkan perlengkapan radio komunikasi dan komputer. Pria itu berbicara melalui radio komunikasi yang ada di depannya. Dari kalimatnya terdengar seperti menginformasikan sesuatu kepada lawan bicara. Rupanya dia sedang memberitakan pantauan situasi terkait cuaca yang tak menentu dan kemungkinan terjadinya banjir. Begitulah pemandangan sehari-hari yang dapat ditemui di salah satu ruangan di Kantor BPBD Kabupaten Padang Pariaman. Ruang tersebut difungsikan sebagai Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Penanggulangan Bencana yang dilengkapi dengan perangkat radio komunikasi dan internet untuk distribusi infrormasi kesiapsiagaan.

Bisa dipastikan saat curah hujan tinggi seperti saat ini, maka debit air di sungai akan naik. Bila itu terjadi, maka  bahaya banjir siap mengintai. Pada kondisi inilah dirasakan pentingnya informasi bagi masyarakat, karena bencana akan datang kapan saja. Jika itu terjadi, mereka sudah bersiap.

Salah satu media pendistribusian informasi yang efektif adalah melalui radio komunikasi. Dari situlah informasi tersebut disebarkan kepada masyarakat melalui Kelompok Siaga Bencana (KSB). Meskipun pengaktifan radio komunikasi di BPBD Padang Pariaman masih terbilang baru, namun perannya sudah cukup membantu. Selain untuk menginformasikan tentang kesiapsiagaan terhadap bencana, radio komunikasi tersebut juga cukup efektif sebagai alat koordinasi lintas sektor.

Kisah tentang radio komunikasi ini bermula sebuah diskusi tematik yang digagas oleh Oxfam bersama PKBI Sumatera Barat di Bulan November 2012 tentang upaya pengurangan risiko bencana. Dari diskusi tematik yang berlangsung hingga enam kali itu tercetuslah ide pemanfaatan radio komunikasi sebagai media penyebaran informasi untuk upaya pengurangan risiko bencana. Sebenarnya perangkat radio komunikasi tersebut sudah dimiliki oleh BPBD Kabupaten Padang Pariaman namun belum aktif dipakai karena kemampuan teknis staf masih kurang.

Setelah acara tersebut upaya untuk mengaktifkan kembali radio komunikasi pun dimulai. Tahap awalnya adalah tentu saja mengaktifkan perangkat rado komunikasi tersebut dan memberikan peningkatan kapasitas tentang penggunaan radio komunikasi kepada staf BPBD. “Kebetulan saya juga aktif di organisasi Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI)  dan merasakan betul manfaat radio komunikasi saat gempa bumi di Padang yang lalu. Kita lihat di BPBD Padang Pariaman fasilitas radio itu ada tetapi belum digunakan, sehingga kita dorong pemanfaatannya, “ ujar Budi Fitra dari PKBI Sumatera Barat yang aktif mendampingi para staf BPBD Padang Pariaman dan KSB untuk teknis pengoperasian radio komunikasi. PKBI Sumatera Barat sendiri juga ikut menyumbangkan tiga  buah HT dan dua buah antena rig.

Untuk memperoleh gambaran lebih lanjut tentang fungsi radio komunikasi tersebut, staf BPBD Kabupaten Padang Pariaman diajak melakukan studi banding ke BPBD Kota Padang. BPBD Kota Padang sudah memfungsikan radio komunikasi untuk urusan penanggulangan bencana.

Sehari setelah perangkat radio komunikasi di BPBD Padang Pariaman tersebut dapat difungsikan, banjir bandang datang. Sebuah pembelajaran yang amat bermakna. Keberadaan radio komunikasi dapat dirasakan langsung manfaatnya. Perkembangan informasi terkini dapat selalu diwartakan. Koordinasi antar sektor dapat berjalan lancar.

Kini melalui radio komunikasi, setiap jam sepuluh pagi seluruh camat dan wali nagari di Kabupaten Padang Pariaman wajib melaporkan situasi di wilayahnya ke Pusdalops BPBD melalui radio komunikasi, sehingga keadaan setiap wilayah terpantau. Kegiatan ini mereka sebut sebagai absensi audio.

“Radio komunikasi sangat membantu untuk mengatasi persoalan penyebaran informasi saat keadaan darurat, dimana biasanya komunikasi melalui telepon seluler tidak berfungsi. Selain itu radio komunikasi juga bisa berfungsi sebagai media penyebaran informasi bagi kesiapsiagaan masyarakat,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Padang Pariaman Zainir Koto. Laksana emas, dalam upaya peningkatan kesiapsiagaan persoalan informasi dan komunikasi menjadi hal yang sangat berharga. (Nugroho Arif Prabowo/Oxfam)***

 

PROFILE SULNIATI, A DRR CHAMPION FROM THE FOOTHILLS OF RINJANI

Image

 

The Sembalun Bumbung village is situated at the foothills of Mount Rinjani in East Lombok district. The hilly landscape and major river that flows through this village have rendered it vulnerable to various disasters. Recurring flash floods, heavy winds and landslides have affected this village. Two people were killed in a flash flood in 2006. Seeing all this, Sulniati, a woman from the village, felt called to contribute to efforts in disaster risk reduction (DRR). She soon realized that she could not do it alone and had to engage with the community to be more active and concerned about DRR.

Because she is a woman

In 2010, a Village Preparedness Team (VPT) was established in Sembalun Bumbung village, thanks to the Building Resilience to Disaster program. Sulniati did not hesitate for a second to join the VPT—she even became the leader. Initially, her involvement and position as leader of the VPT was not taken very seriously by some villagers. This was because she was a woman. Many people equated disaster work with physical work, and physical work is only for men.

“Because I am a woman, many people doubted my abilities. But I ignored it all because I think a woman’s work is not only to be in the kitchen, water wells, and bed. Women can do much more than that for the development of the village,” she said with conviction. Sulniati realizes that as a head of the VPT, she must think strategically on how to drive VPT activities not only during a disaster, but also before and after.

The first step she took as the VPT leader was to encourage the members to recognize signs from nature as part of the early warning system. The next thing was to create the standard operating procedure of the early warning system. Finally, the last task was to inform villagers about the system and agree on some early warning tools, such as hand held loud speakers that are carried around the village for disaster warnings.

After some time, heavy rains and strong winds came over the village. But because the community had been forewarned to be prepared, no one was killed during the storm. Since that day, villagers have come to realize that DRR is not a trivial matter and have subsequently given Sulniati their full support in undertaking DRR efforts. Currently, together with her fellow villagers, Sulniati is promoting village legislation on disaster risk reduction.

Schools and health centers

Sulniati’s efforts to raise awareness on DRR did not end at the village. When she is not organizing the community, Sulniati teaches at the MTsNW school in Pangsor Gunung. In her classroom, she always gives DRR messages and wisdom to her students. “Five minutes before I start a lesson, I will remind and encourage my students to always care for their environment, because it is a form of our gratitude to God for his bounty,” she said.

In addition to being the head of the VPT, Sulniati is also a local health center cadre. She believes that women are an essential element of DRR efforts and they must have the knowledge and abilities to be prepared for any kind of vulnerability. It is this conviction that has led Sulniati to inform women who come to the health clinic about DRR. “The simplest thing that a woman can do to support DRR is to motivate her family to always keep their home clean,” she explained.

Sulniati’s efforts have been recognized beyond her village. She has been invited a number of times by the chief of police of Sembalun to lead sessions on DRR for students of both the Bhayangkara junior and high schools. She hopes that one day she can share her experiences to communities in other villages. This mother of one daughter believes that DRR efforts must always continue. “The word ‘tired’ does not exist for me when it comes to humanitarian work. I will dedicate my life to disaster risk reduction work,” she said with determination. (Nugroho Arif Prabowo/Oxfam)

SOSOK: SULNIATI PENDEKAR PRB DARI KAKI RINJANI

Desa Sembalun Bumbung terletak di kaki Gunung Rinjani Kabupaten Lombok Timur. Daerahnya yang berbukit-bukit dan dilalui sungai besar, membuat desa ini rentan terhadap ancaman bencana alam. Beberapa kali banjir bandang, badai angin juga tanah longsor menghampiri desa ini. Bahkan tahun 2006 saat banjir bandang datang, dua orang warganya menjadi korban. Hal ini yang membuat Sulniati terpanggil untuk mengabdikan dirinya terhadap usaha-usaha pengurangan risiko bencana (PRB). Namun ia sadar bahwa upaya ini tidak bisa dilakukannya seorang diri. Warga desa juga harus diajak untuk lebih peduli dan aktif melakukan upaya PRB tersebut.

Karena Dia Perempuan

Tahun 2010 melalui Program Membangun Ketahanan terhadap Bencana, terbentuklah Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) di Desa Sembalun Bumbung. Tanpa ragu, Sulniati mendaftarkan dirinya untuk bergabung ke dalam TSBD. Bahkan ia dipercaya menduduki posisi ketua. Awalnya peran Sulniati sebagai ketua TSBD dan juga kiprahnya hanya dipandang sebelah mata oleh sebagian warga desanya. Hal ini terjadi karena Sulniati adalah seorang perempuan. Warga menganggap bahwa urusan kebencanaan itu identik dengan tenaga fisik, dan itu menjadi tugas la-ki-laki.

“Karena saya seorang perempuan, pada awalnya dari warga ada pandangan yang meragukan kemampuan saya. Tetapi saya cuek saja dan menurut saya tugas perempuan tidak hanya di dapur, sumur dan kasur. Perempuan bisa berbuat lebih banyak bagi kemajuan desa,” katanya dengan lugas. Sulniati menambahkan bahwa selaku ketua TSBD ia harus mampu berpikir strategis mengarahkan kegiatan TSBD tidak hanya saat terjadi bencana saja, tetapi juga saat tidak terjadi bencana dan setelah ada bencana.

Langkah awal yang dilakukannya selaku ketua TSBD adalah mengajak anggotanya untuk mengenali tanda-tanda alam sebagai bagian dari sistem peringatan dini. Setelah itu mereka membuat standar operasional prosedur (SOP) mengenai sistem peringatan dini. Tugas  berikutnya adalah mensosialisasikannya kepada warga termasuk menyepakati beberapa alat bantu peringatan dini seperti penggunaan pengeras suara yang dibawa keliling untuk menyampaikan informasi kebencanaan.

Tak lama setelah itu, hujan yang lebat disertai angin kencang melanda desa. Karena warga sudah diberitahu untuk bersiap, maka jatuhnya korban bisa dihindari. Sejak saat itu warga sadar bahwa upaya PRB tidak bisa dianggap remeh. Maka mereka mendukung penuh kiprah Sulniati dan ikut aktif melakukan usaha PRB. Saat ini Sulniati bersama warga desa sedang mendorong lahirnya peraturan desa yang mengatur tentang upaya pengurangan risiko bencana.

Sekolah dan Posyandu

Langkah Sulniati untuk melakukan penyadaran tentang pengurangan risiko bencana tidak berhenti hanya di lingkup desa. Sulniati yang sehari-hari bertugas sebagai guru di MTsNW Pangsor Gunung tak lupa selalu menyisipkan pesan tentang PRB kepada para siswanya. ”Biasanya lima menit sebelum masuk ke inti pembelajaran, saya mengingatkan dan mengajak kepada siswa untuk selalu peduli dan menjaga lingkungan di sekitar mereka. Karena itu adalah bentuk ungkapan rasa syukur kita atas karunia Ilahi,” ujar Sulniati.

Selain sebagai ketua TSBD, Sulniati juga seorang kader Posyandu. Bagi Sulniati  perempuan adalah komponen penting dalam upaya PRB. Mereka harus diberi tambahan pengetahuan dan kemampuan sehingga nantinya menjadi tangguh dan selalu bersiap terhadap segala macam kerentanan. Ini yang menjadi dasar baginya untuk selalu memberikan sosialisasi tentang PRB bagi ibu-ibu pada saat kegiatan Posyandu berlangsung. “Hal yang paling sederhana yang bisa dilakukan ibu-ibu terkait usaha pengurangan risiko bencana adalah menjadi motor penggerak di keluarganya untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan,” tambahnya lagi.

Pengakuan terhadap kiprah Sulniati tidak hanya diberikan oleh warga di desanya saja. Beberapa kali Polsek Sembalun mengajak Sulniati untuk memberikan materi tentang PRB bagi siswa SMP dan SMA Bhayangkara. Sulniati juga berharap nantinya ia dapat berbagi pengalaman dengan masyarakat di luar daerahnya. Bagi ibu satu orang putri ini usaha-usaha terkait PRB harus dilakukan secara terus-menerus. “Tidak ada kata capek untuk setiap hal yang berhubungan dengan kemanusiaan. Dan saya akan mengabdikan hidup saya untuk kegiatan pengurangan risiko bencana,” tekadnya. (Nugroho Arif Prabowo/Oxfam)